Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Melihat peluang capres alternatif di Pilpres 2019

Melihat peluang capres alternatif di Pilpres 2019 Ilustrasi Pemilu. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Sederet nama digadang jadi calon alternatif di Pilpres 2019 di luar Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Misalnya, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Rizal Ramli, Chairul Tanjung hingga Zulkifli Hasan.

Bagaimana peluang capres non parpol di Pilpres 2019?

Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing memprediksi kandidat calon presiden dari luar parpol sulit mendapatkan tiket tahun depan. Sebab, parpol akan lebih memilih calon yang memiliki elektabilitas tinggi.

"Kalau elektabilitasnya luar biasa, misalnya di atas 50 persen partai akan mendekati. Tapi kalau elektabilitasnya di bawah, saya kira sangat logis partai tidak mendukung mereka. Partai kan ingin berkuasa, masa mendukung calon yang elektabilitasnya rendah. Itu saja," ujar Emrus kepada wartawan, Selasa (12/6).

Menurut Emrus, penentuan sebagai calon presiden adalah urusan partai. Sehingga partai tentu saja realistis untuk memberikan tiketnya di Pilpres 2019 nanti.

Sejauh ini baru lima partai yang menyatakan dukungan pasti kepada Joko Widodo, yakni PDIP, Golkar, PPP, NasDem dan Hanura. Sementara Gerindra mengusung sang ketua umum Prabowo Subianto, tapi mantan Danjen Kopassus itu belum memberikan jawaban.

"Calon-calon rendah, masa iya dipaksakan. Sebetulnya yang lebih aman yang elektabilitas 70 persen. Jokowi sendiri belum aman karena belum sampai 50 persen. Banyak swing votter," ujar Emrus.

Lebih jauh, Emrus menjelaskan, situasi politik saat ini nampaknya tidak terhindarkan adanya tiga poros. Alasannya karena komunikasi politik yang dibangun antarpartai belum mengkristal ke dua poros, poros satu atau dua.

Bahkan partai-partai yang saat ini sudah menunjukan indikasi berada di posisi dua poros itu, tidak ada jaminan mereka akan tetap berada di poros itu.

Karena apa, lanjut Emrus prinsip dasarnya adalah mereka akan mau menyatu ke salah satu kalau kepentingan politik mereka terakomodasi.

"Sepanjang kepentingan politik mereka belum terakomodasi saya pikir mereka akan membuat poros baru. Karena dalam pencalonan Presiden 2019 ini, sebenarnya tidak pas dipakai istilah koalisi. Yang lebih pas dipakai istilah kerja sama politik. Karena poros ini sangat dinamis dan bisa last minute. Karena itulah sangat pragmatis, lebih cocok sebagai kerja sama politik.

Ia memprediksi, pada akhirnya akan muncul poros ketiga. Poros baru ini kata Emrus cenderung akan dinakhodai oleh partai Demokrat, baru kemudian kemungkinan besar merapat PAN.

"Karena PAN rekan lama Partai Demokrat, saat Hatta menjabat Ketua Umum. Dan kemudian ada relasi kekeluargaan antara PAN dan Demokrat," kata Emrus.

Kemudian, lanjut dia, besar kemungkinan akan menyatu PKB. "PKB belum definitif mengusung calon. Cak Imin bisa saja maju, dari segi elektabilitas perlu dipoles. Dari Demokrat, kelihatan dari hasil survei, AHY sangat layak ditempatkan di posisi cawapres," kata Emrus. (mdk/rnd)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP