Kritik Risma, seniman DKJT pilih dukung Rasiyo-Lucy di Pilkada
Merdeka.com - Kritik kinerja Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana selama memimpin Kota Surabaya, Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) sepakat mendukung pasangan Rasiyo-Lucy Kurniasari di Pilwali Surabaya, 9 Desember 2015 mendatang.
Menurut para seniman di Jawa Timur ini, pembangunan Kota Surabaya tidak hanya di sektor taman, seperti yang dilakukan Risma selama menjabat, tapi kesenian juga harus diberi ruang berekspresi.
Dalam konferensi pers-nya saat akan menggelar Jatim Art Forum 2015 di Gedung Cak Durasim Surabaya, Senin (28/9), Ketua DKJT, Taufik Monyong mengatakan, pihaknya mengundang Rasiyo-Lucy di serangkaian kegiatan tahunan.
Agenda tahun ini, kata Taufik, mengambil tema: Yang Tetap dan Yang Berubah. Acara akan digelar pada 28 hingga 30 September di Kompleks Taman Budaya Cak Durasim, Jalan Genteng Kali 85, Surabaya.
"Calon wali kota (Rasiyo) kita undang dan sudah konfirmasi akan datang nanti malam. Ada juga konsulat dari Jepang dan China yang bakal hadir," kata mantan tim sukses KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf) di Pilgub Jawa Timur 2013 ini.
Alumni IKIP Negeri Surabaya ini juga menyampaikan penilaiannya atas kinerja Risma-Whisnu saat memimpin Kota Surabaya. Menurutnya, Risma-Whisnu tidak pernah memberi ruang kepada para seniman untuk berekspresi.
"Pembangunan kota, tidak hanya sekadar mempercantik taman. Sementara ruang berkesenian di Surabaya sangat kurang, tapi tidak pernah mendapat perhatian dari Pemkot Surabaya," nilai mantan vokalis band lokal, Piknik ini.
Kembali nilai, ruang ekspresi para seniman di Kota Surabaya, kalah jauh dengan pembangunan mal-mal. "Padahal, ruang publik sangat penting. Mal seharusnya juga ada ruang representatif seperti ajang pamer karya seni. Saya harap Risma bisa, ternyata hanya balai pemuda," ucapnya.
Pemkot Surabaya, masih nilai dia, seharusnya belajar dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan DKJT. "Jadi bukan hanya masalah anggaran operasional, pikiran-pikiran seni juga harus ditampung. Selama ini, seniman tidak pernah diajak merumuskan desain kesenian di Surabaya. Padahal, karya seni mampu menggambarkan kondisi yang terjadi," sambungnya.
Taufik mencontohkan, misalnya seni fotografi yang dinilainya tidak memiliki tempat untuk pameran. "Dengan fotografi yang dipamerkan, masyarakat bisa tahu kondisi yang terjadi. Dengan foto, kita tahu: Oh ternyata di Surabaya masih ada kondisi yang seperti ini. Jadi seni adalah ekspresi atas kondisi yang terjadi. Sayangnya, Risma tidak pernah memperhatikannya."
Untuk itu, selama lima tahun menjabat sebagai wali kota, Taufik mengaku kecewa atas kinerja Risma, khususnya kebijakan di dunia seni. "Ada seorang seniman bernama Cak Lupus, yang saat ini membuka warung kopi Jula-Juli. Gara-gara THR sepi kegiatan seni budaya, Cak Lupus jadi pedagang kopi," ungkapnya lagi.
"Janjinya, Risma akan merubah wajah THR sebagai tempat berkesenian dan kebudayaan yang representatif, tapi sampai masa akhir jabatannya, ternyata tidak terwujud. THR makin sepi," tandasnya.
Seperti diketahui, pada Pilwali Surabaya, 9 Desember mendatang, incumbent Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana dari PDIP akan ditantang Rasiyo-Lucy Kurniasari yang diusung Partai Demokrat dan PAN. Hari ini, 28 September, Risma-Whisnu resmi melepaskan jabatannya sebagai wali kota dan wakil wali kota. Dan hari ini juga, kampanye dibuka oleh KPU Surabaya hingga 5 Desember mendatang.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya