Komisi I DPR kecewa Netanyahu menang hitung cepat pemilu Israel
Merdeka.com - Hasil dari hitung cepat maupun exit poll Channel 2 TV menunjukkan partai pendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Partai Likud kembali mendapat mandat rakyat untuk memerintah. Hasil hitung cepat ini disambut negatif oleh Wakil Ketua Komisi I DPR bidang pertahanan dan luar negeri, Hanafi Rais.
Hanafi menyatakan pemilu Israel belum selesai. Menurut dia, Netanyahu belum tentu kembali menang karena selisih suara yang sangat tipis terjadi di pemilu Israel.
"Masih belum ada yang raih mayoritas untuk bisa bentuk pemerintahan. Apalagi selisih partainya Netanyahu dengan partai Herzog cuma terpaut kisaran satu kursi parlemen," kata Hanafi kepada merdeka.com, Rabu (18/3).
Meski tak secara gamblang menyatakan kekecewaannya jika Netanyahu kembali diunggulkan, Hanafi mengatakan, bahwa yang terpenting pemimpin Israel ke depan harus perjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Yang saya harapkan Israel menyudahi penjajahannya atas tanah Palestina dan mengakui negara Palestina," tegas dia.
Namun jika Netanyahu dinyatakan menang, nampaknya keinginan Hanafi itu hanya mimpi belaka. Sebab dalam janji politiknya, Netanyahu menegaskan, tidak setuju jika Palestina merdeka.
Menanggapi hal itu, Politikus PAN ini menambahkan, jika memang itu terjadi maka Israel akan menjadi musuh bersama negara dunia. Dia pun ingin ajang Konferensi Asia Afrika yang akan digelar di Indonesia dimanfaatkan untuk menyatukan kekuatan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Sifat kolonial Netanyahu yang demikian akan makin membuat Eropa dan Amerika menjauhi Israel. Indonesia harus bisa manfaatkan momen KAA bulan depan untuk galang persatuan Internasional terkait sikap kolonialis Israel terhadap Palestina ini," pungkasnya.
Seperti diketahui, Surat kabar the New York Times, Rabu (18/3) menunjukkan Likud memperoleh 27-28 kursi parlemen dari total 120 yang diperebutkan. Lewat akun Twitternya, Netanyahu mengklaim berhasil memenangkan pemilu. Hasil hitung cepat berbeda dari jajak pendapat pekan lalu yang mengatakan oposisi akan singkirkan Likud. "Ini kemenangan besar bagi Likud dan rakyat Israel," tulisnya.
Namun kemenangan ini belum tentu mengamankan posisi Netanyahu. Soalnya Serikat Zionis, koalisi gabungan Partai Buruh, Hatnua, dan beberapa partai sosialis lainnya, kemungkinan memperoleh 26 kursi.
Analis mengatakan Netanyahu harus segera mengamankan dukungan partai-partai sayap kanan. Politikus yang sudah tiga kali menjabat perdana menteri itu dua hari lalu mengeluarkan pernyataan kontroversial bila terpilih kembali. Dia berjanji mengerahkan segala upaya menggagalkan berdirinya negara Palestina yang berdaulat.
"Kami akan terus mengupayakan penyatuan seluruh wilayah Yerusalem (untuk Israel) sehingga tidak mungkin terpecah-pecah lagi," kata Netanyahu.
Ketika ditanya wartawan, apakah artinya Netanyahu tidak ingin ada Palestina yang berdaulat, dia menjawab "tentu saja."
Tanda kemenangan Netanyahu tidak disambut gembira oleh negara-negara lain. Bahkan penasehat politik Amerika Serikat, David Axelrod, mengkritik cara Netanyahu menarik simpati pemilih dengan retorika anti-Palestina.
"Pidato terakhirnya mungkin membantunya memenangkan pemilu. Tapi apa harga yang harus dibayar," tulis Axelrod melalui akun Twitternya. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya