Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Jokowi telepon Mega dan Prabowo di momen terpenting

Kisah Jokowi telepon Mega dan Prabowo di momen terpenting Konsolidasi partai di kediaman Megawati. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - 17 Maret 2012 malam, Jokowi tampak ceria. Dia tertawa-tawa menikmati pertunjukan Opera Van Jawa yang digelar di Solo.

Pukul 23.00 WIB, Jokowi baru pulang ke rumah. Dia mendapat SMS dari anggota DPP PDI Perjuangan. Isinya, Ibu Ketum Megawati Soekarnoputri meminta Jokowi berangkat dengan pesawat paling pagi ke Jakarta untuk ikut rapat penting DPD PDIP Tebet.

Di sana sudah ada sejumlah wartawan. Apakah rapat ini ada kaitannya dengan Pilgub DKI?

Jokowi mengaku tak percaya saat ditunjuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta dari PDIP. Dia sempat menolak sebelum akhirnya menerima.

"Saya akhirnya setuju. Murni, ini sebuah tugas dan penunjukan dengan dasar dedikasi pada rakyat yang lebih luas," kata Jokowi dalam official memoar book yang ditulis oleh Alberthiene Endah dan diterbitkan Metagraf tahun 2012.

Hari itu tanggal 18 Februari, besok adalah waktu terakhir pendaftaran cagub dan cawagub DKI. Belum ada nama pendamping Jokowi.

Sejumlah nama muncul. Mulai jenderal, budayawan hingga pengusaha. Para politikus PDIP dan Gerindra terus berdiskusi tajam.

"Jadi dalam diskusi itu, kami bolak-balik menelepon Prabowo Subianto dan Ibu Megawati," kata Jokowi.

Kemudian setelah berdebat, munculah nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Mantan bupati Belitung Timur yang kini menjadi anggota dewan.

Ahok seorang Nasrani dan keturunan Tionghoa. 90 Persen penduduk Jakarta adalah Muslim. Namun PDIP-Gerindra yakin dengan duet ini karena kualitas kepemimpinan mereka.

"Kita mantapkan diri berjalan dengan suatu pemikiran baru ini, Jokowi. Tionghoa dan Nasrani bisa jadi pemimpin. Orang yang kita pilih ini memiliki prestasi baik dan kesanggupan memimpin tidak diragukan lagi."

Demikianlah awal duet Jokowi-Ahok di Pilgub DKI. Keduanya sempat menjadi kesayangan Prabowo yang saat itu menjadi Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Namun masa bulan madu tak lama. Keretakan pertama muncul saat Jokowi maju capres. Prabowo marah karena merasa PDIP melanggar janji. Yang kedua saat Ahok mundur dari Gerindra karena tak sepakat sikap partai soal Pilkada lewat DPRD.

Sempat panas, kini hubungan Jokowi dan Prabowo kembali mencair lagi. Jokowi pun menuliskan Prabowo punya peran besar dalam hidupnya. Benar, tanpa Prabowo mungkin Jokowi masih memimpin Solo. Tak akan ada di Jakarta lalu menjadi Presiden RI ketujuh.

"Pak Prabowo orang baik. Dia bagian dari perjalanan hidup saya," kata Jokowi.

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP