Kasus Rita Widyasari munculkan gejolak di internal Golkar Kaltim
Merdeka.com - Jagoan Golkar, Andi Sofyan Hasdam dan Rizal Effendi, kalah di Pilgub Kaltim yang digelar serentak pada 27 Juni lalu. Kendati demikian, Golkar tetap optimistis menangi Pileg 2019 dan memenuhi target 17 kursi di DPRD Kaltim.
Hasil Pilkada, dinilai bukan gambaran partai berlambang pohon beringin itu menatap Pileg 2019. Meski pasangan Andi Sofyan Hasdam-Rizal Effendi, gagal memenangi Pilgub, dan hanya menempati posisi ketiga dengan raihan suara 21 persen.
"Hasil Pilkada, tidak bisa jadi gambaran hasil Pileg. Target 17 kursi di Pileg 2019. Sebagaimana keberhasilan 13 kursi di Pileg 2014 lalu," kata Wakil Bendahara DPD I Partai Golkar Kaltim Rinda Sandayani, dalam sebuah diskusi, di Samarinda, Selasa (24/7).
Rinda sedikit mengungkap proses penetapan Andi Sofyan Hasdam sebagai Cagub Golkar. Sebelumnya, Golkar memang sangat solid mendukung Rita Widyasari, sebagai Cagub.
"Tapi dengan persoalan hukum yang ada (dialami Rita Widyasari yang juga Ketua DPD I Partai Golkar Kaltim saat itu), menimbulkan gejolak politik (di internal Golkar Kaltim)," ujar Rinda.
Wafatnya Wakil Wali Kota Nusyirwan Ismail, yang saat itu mendampingi Andi Sofyan Hasdam, berpengaruh pula bagi Golkar. "Karena harapan kami besar dengan beliau. Setelah beliau meninggal, kami berjuang keras untuk dapatkan simpati masyarakat," tambah Rinda.
Kendati demikian, Golkar tidak ingin larut dalam kekalahan, dan tancap gas fokus ke Pileg 2019. "Di antaranya, strategi memanfaatkan teknologi digital seperti media sosial. Mau tidak mau, suka tidak suka mempengaruhi figur," terang Rinda.
"Golkar sangat berat untuk memperebutkan Karang Paci (kursi di DPRD Kaltim). Ada tokoh-tokoh politik lainnya, di partai lainnya, yang juga gencar. Kontestasi politik di Indonesia, figur sangat menentukan," kata Dosen Fisipol Universitas Mulawarman Samarinda, Budiman.
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya