Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jubir JK: Sumber kegaduhan adalah Rizal Ramli!

Jubir JK: Sumber kegaduhan adalah Rizal Ramli! Rizal Ramli-Jusuf Kalla. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketegangan di internal Kabinet Kerja semakin menjadi-jadi. Diawali oleh komentar-komentar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli yang baru diangkat Presiden Joko Widodo sekitar satu pekan.

Tidak hanya mengkritisi kinerja menteri di luar kapasitasnya, Rizal Ramli juga mengkritisi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) soal proyek listrik 35.000 megawatt.

Belum usai kisruh yang dibuat Rizal Ramli, Juru Bicara mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie Massardi ikut berkomentar membela Rizal Ramli. Atas komentar Adhie Massardi, Juru Bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah mengatakan, sumber kegaduhan adalah Rizal Ramli.

"Sumber kegaduhan adalah Pak Rizal. Sejak selesai dilantik, RR sudah ribut soal Garuda, juga dengan program listrik. Tapi Pak JK sama sekali tidak mengomentari karena bukan tempatnya. Tetapi Pak Rizal makin jadi-jadi meski sudah ditegur Presiden. Malah mau memanggil Pak JK dan menantangnya debat. Pak JK pun masih tenang-tenang saja," papar Hussain kepada wartawan, Rabu (19/8).

Hussain mengatakan, sebagai menteri, seharusnya Rizal Ramli memanfaatkan sidang kabinet dan rapat terbatas untuk mengungkapkan kritikannya, alih-alih membuat kegaduhan.

"Enak saja Pak Rizal, habis bikin gaduh kiri kanan, lalu lewat Adhie Massardi, minta Pak JK bersikap negarawan. Ini lucu. Habis nantang lalu setelah diingatkan dia minta kita jadi negarawan. Pak JK negarawan, kalau saya bukan negarawan," kata Hussain.

Lebih lanjut, Hussain mengkritisi analogi yang digunakan Adhi Massardi, saat Albert Enstein mengkritisi Presideb FD Rosevelt.

"Adhie Massardi apakah sudah tahu cara dan etika Albert Enstein menyampaikan sarannya kepada seorang Presiden FD Rosevelt? Apakah Einstein memanggil Presiden dan menantangnya berdebat? Pasti tidak. Einstein menyampaikan dengan amat santun lewat surat. Tidak seperti Rizal Ramli seorang Menko memanggil mangil Wapres," papar Hussain.

Jadi, lanjut Hussain, cara gagasan tersebut disampaikan, apalagi sudah di dalam satu pemerintahan, tetap perlu mengedepankan tata krama.

"Sakachi Toyoda dan Thomas Alva Edison. Keduanya menyampaikan ide dan gagasan secara santun. Tidak sok pintar apa lagi sok jagoan. Semoga Pak Rizal belajar dari sopan santun tokoh tokoh dunia tersebut. Belajar tentang akhlak yang baik agar bangsa kita maju seperti Jepang," tutup Hussain.

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP