Gus Dur, PKB dan Muhaimin
Merdeka.com - Sekarang di Jawa Timur sedang ramai berita penyobekan baliho calon legislatif (caleg) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di beberapa daerah, misalnya di Surabaya dan Malang. Penyebabnya, ada kelompok-kelompok massa pengagum Gus Dur, tidak terima bila foto tokoh kebanggaan mereka dijual untuk kepentingan politik PKB.
Apalagi, pengurus PKB yang saat ini sedang menjabat, Muhaimin Iskandar dkk, pernah berseteru dengan Gus Dur dalam kasus sengketa kepengurusan partai. Menjelang pemilu 2014, banyak caleg PKB memasang foto Gus Dur, dengan tulisan terang di bawahnya "Penerus Perjuangan Gus Dur".
Hal itu memicu masalah berantai. Awalnya para Gusdurian--pendukung Gus Dur di beberapa daerah tidak terima. "Secara etika, mereka harus memiliki izin dari ibu Sinta Nuriyah dan putri-putrinya," kata Koordinator Jaringan Gusdurian Jatim, Aan Anshori, saat ditemui di Jombang, Kamis (26/12).
Belakangan, keluarga mendiang presiden RI keempat juga turut berkomentar. Istri Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid mengatakan, pihaknya akan menyomasi partai politik atau calon legislator yang memasang atribut atau baliho bergambar Gus Dur tanpa seizin keluarga.
Langkah hukum tersebut dilakukan karena memang ada surat yang ditandatangani pengacara keluarga yang isinya melarang memakai gambar atau apapun namanya yang berbau Gus Dur. Ia mengaku mendapat banyak aduan dan laporan dari sejumlah pihak karena banyaknya baliho atau alat peraga kampanye yang menggunakan nama maupun gambar Gus Dur.
Topik pilihan: PBNU | Humor Gus Dur
Senada dengan Shinta, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Salahuddin Wahid, juga menyayangkan aksi pemasangan gambar Gus Dur itu. "Saya juga tidak setuju (dengan pemasangan foto Gus Dur) sebagai alat politik. Kalau memang itu terjadi, dituntut saja secara hukum," ujar kiai yang akrab disapa Gus Solah itu.
Konflik PKB ini mengingatkan kita pada borok lama, ketika Gus Dur berseteru dengan Muhaimin, yang tak lain adalah keponakannya sendiri pada 2008. Konflik dalam tubuh PKB dulu merupakan konflik elite, antara Ketua Dewan Syuro Partai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Ketua Dewan Tanfidz Muhaimin Iskandar.
Ibarat api dalam sekam, hingga kini sisa-sisa konflik itu sepertinya masih ada. Meski upaya perdamaian (islah) antara kedua kubu berulang kali digagas, tapi perseteruan itu agaknya terus merembet sepeninggal Gus Dur pada akhir 2009 lalu.
"Kami ini tetap menghormati Gus Dur. Dan Gus Dur sudah menjadi milik semua orang, kami rasa tidak masalah mencantumkan foto beliau," ujar Wakil Bendahara Umum DPP PKB Bambang Susanto, orang yang dekat dengan Gus Dur tiga tahun terakhir sebelum meninggal.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya