Golkar baru diwacanakan, penyelesaian konflik atau intrik?
Merdeka.com - Dualisme kepengurusan Partai Golkar antaran Kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono tak kunjung usai. Meski ketegangan kedua kubu mulai berangsur baik, namun belum ada titik temu mempersatukan keduanya dalam sebuah kepengurusan bersama.
Jalur kekeluargaan sudah sempat dicoba, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bahkan sempat menjadi mediator namun gagal. Alhasil, jalur hukum menjadi pilihan dari mulai Pengadilan Negeri hingga Pengadilan Tata Usaha Negara memperoses dualisme Golkar.
Namun dalam menghadapi Pilkada serentak Desember nanti, nampaknya jalan islah partai penguasa orde baru sudah mulai terlihat. Wakil Ketua Umum Partai Golkar kubu Agung Laksono, Yorrys Raweyai yang mengungkap bahwa akan ada Golkar dengan format baru sebelum pilkada 9 Desember digelar.
"Kita akan lahirkan Golkar dengan (format) Golkar baru, dengan ikon baru, sebelum (Pilkada) 9 Desember. Itu kalau Golkar mau besar ke depan. Pak JK kan sudah buat terobosan (saat memediasi kedua pihak)," ujar Yorrys dalam acara bedah buku berjudul 'Pecah Belah Partai Golkar', di Gedung Pola, kompleks Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9).
Lalu apakah Golkar dengan format baru ini mungkin terjadi dengan tidak lagi memunculkan elite seperti Ical dan Agung Laksono?
Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Panji Anugrah menilai, sangat mungkin terjadi jalan islah antara kedua kubu yang sudah setahun ini berseteru. Sebab menurut dia, tidak ada yang diuntungkan jika Golkar pecah. Malahan, kedua belah pihak bakal rugi karena Golkar tak bisa solid mengahadapi pilkada.
Panji mengatakan, bisa saja dalam format baru Golkar nanti akan memunculkan calon baru di luar Ical dan Agung. Meskipun dia mengakui sangat sulit mencari tokoh Golkar yang netral dan berada di tengah antara dua pihak yang terpecah.
"Memang enggak mungkin, hampir enggak mungkin (ada elite yang netral), kan tiap elite di Golkar relatif menyatakan diri keberpihakan. Tapi nanti yang dipilih bisa saja yang relatif moderat, diterima, enggak terlalu ambil sikap frontal seperti Yorrys yang ke Agung. Itu sulit, karena frontal menempatkan posisinya untuk jadi penengah," kata Panji saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (12/9).
Menurut dia, memang jalan satu-satunya untuk mengakhiri kisruh di Golkar adalah jalan politik. Bagi dia, jalur hukum tidak akan mungkin bisa menyelesaikan dualisme yang terjadi. Karena baik Ical maupun Agung bakal sama-sama terus melawan dan saling gugat.
"Gugatan pengadilan banding dan terus menerus, ya penyelesaian politik satu-satunya cara," ujar dia.
Lalu siapa tokoh yang cocok jadi penengah jika ada Munaslub Golkar nanti? (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya