GM tuding Prabowo pakai kekerasan, PAN ungkit kasus Sitok
Merdeka.com - Partai Amanat Nasional ( PAN ) angkat bicara tentang ucapan Goenawan Mohamad (GM) yang mengaku kecewa partai matahari biru itu mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2014. Wakil Ketua Umum PAN , Dradjad Wibowo , mempertanyakan ucapan budayawan itu yang menuding Prabowo sebagai kekuatan Orde Baru yang memadamkan gerakan pro-demokrasi pada 1998 dengan kekerasan.
"Soal tuduhan kekerasan terhadap Prabowo, jangan asal tuduh, buktikan. Kalau memang (GM) anti-kekerasan, bagaimana dengan kekerasan seksual yang dilakukan oleh penyair yang juga temannya?" ujar Dradjad lewat keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (15/5).
Teman GM yang dimaksud Dradjad diduga kuat adalah Sitok Srengenge, sesama penyair di Komunitas Salihara, yang dilaporkan RW (22), mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), ke polisi atas tuduhan kekerasan seksual. Kasus Sitok kini masih diproses di kepolisian.
Mengenai pengakuan GM bahwa dia adalah salah satu pendiri PAN , Dradjad membenarkan. "Tapi soal tetap sebagai anggota dan membayar iuran? Wuah saya cuma bisa tertawa," kata mantan anggota DPR ini.
Sebagai Waketum PAN , Dradjad mengatakan tidak pernah melihat GM ke DPP PAN untuk menyampaikan masukan atau apapun yang lazim dilakukan oleh seorang anggota partai.
"Dalam Pileg kemarin pun saya tidak merasa yang bersangkutan ikut berjuang mengampanyekan PAN . Bahkan ketika PAN dihajar lembaga-lembaga survei 'penjual diri' sebagai partai yang tidak lolos threshold dan sebagainya, saya tidak merasa yang bersangkutan membela PAN ," ujar dia.
Secara pribadi, Dradjad tidak merasa GM sebagai bagian dari keluarga besar PAN . "Setidaknya sejak saya menjadi Waketum," ujarnya.
Seperti diberitakan, salah satu pendiri PAN Goenawan Mohamad mengaku kecewa terhadap langkah partai matahari biru yang kemarin mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai bakal calon presidennya.
Sastrawan yang mengaku masih menjadi anggota PAN itu pun menyatakan mundur dari keanggotaan partai.
"Selama ini, meskipun dengan kekecewaan, saya tetap menjadi anggota PAN dan membayar secara teratur iuran keanggotaan. Tetapi kali ini saya tidak punya harapan lagi. Saya menyatakan berhenti dari keanggotaan partai," kata GM, demikian dia disapa, lewat pernyataan terbuka di akun Facebooknya, kemarin.
GM bercerita, ketika bersama teman-teman secita-cita mendirikan PAN di awal reformasi, dia berharap ikut menyumbang perbaikan semangat dan mutu kepartaian Indonesia, yang sudah dirusak oleh Orde Baru.
"PAN adalah kelanjutan gerakan pro-demokrasi yang melawan kekuasaan otoriter Jenderal Soeharto ," kata penyair itu.
Semenjak Soeharto jatuh, lanjut GM, dia dan kawan-kawan ingin membangun sebuah partai yang punya platform politik yang jelas untuk diperjuangkan ke arah demokrasi yang lebih luas, kebhinekaan yang lebih hidup, dan kesejahteraan yang lebih merata.
"Dalam sejarahnya, PAN pernah berusaha ke arah itu. Tetapi makin lama ia makin tak memandang politik sebagai perjuangan. Makin lama politiknya hanya hasrat mengukuhkan posisi dalam struktur yang ada dan untuk memperoleh jabatan yang empuk bagi elitenya," ujarnya.
Hal ini, kata GM, memang jadi tabiat partai-partai lain di Indonesia sekarang. "Tetapi seharusnya PAN mencoba memperbaiki keadaan itu. Tetapi tidak," ujarnya.
Akhirnya, kata dia, dalam pemilihan umum dan Pemilu Presiden 2014, PAN makin terseret ke dalam oportunisme.
"Yang diupayakannya hanyalah agar Ketua Umum dapat jabatan Wakil Presiden. Untuk itu ia bersedia mendukung kekuatan yang di masa Orde Baru ingin memadamkan gerakan pro-demokrasi, antara lain dengan kekerasan," tegas GM.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya