Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Disebut cocok jadi presiden, Ridwan Kamil dilirik jadi gubernur DKI

Disebut cocok jadi presiden, Ridwan Kamil dilirik jadi gubernur DKI ridwan risma ahok. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemilihan Gubernur DKI Jakarta masih dua tahun lagi. Namun lembaga survei Cyrus Network mencoba mengukur siapa tokoh-tokoh yang bakal menjadi pesaing incumbent Basuki Tjahaja Purnama. Sejumlah nama kepala daerah disurvei. Hasilnya, nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menjadi kandidat pesaing terkuat.

"Kami coba mengkaji siapa yang menjadi saingan kuat Ahok dalam pemilukada 2017 nanti. Sebagai calon incumbent, Ahok masih di atas. Namun Risma dan Ridwan juga punya suara. Survei ini pada dasarnya berangkat dari rasa penasaran kami mengenai Ridwan Kamil yang menjadikan KAA sebagai momentum. Dia dikira presiden lho," terang Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Alfianto.

Hal itu dia sampaikan dalam pemaparan hasil survei bertajuk 'Menakar Peluang Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini di Restoran The Consulate, Jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakpus (7/5).

Cyrus menggelar survei pada tanggal 23-27 April 2015 lalu dengan menggunakan nama dan foto para calon. Eko memaparkan, dari sepuluh nama yang disodorkan kepada pemilih, Ahok memperoleh 35,5 persen, Ridwan 14,8 persen, dan Risma 13,8 persen.

Sedangkan dari empat nama yang disodorkan, Ahok memperoleh suara 37,3 persen, Ridwan 23,8 persen, Risma 18,3 persen dan Djarot Saiful Hidayat 6,3 persen. Dari segi popularitas, Ahok unggul dengan 96 persen, Risma 74 persen, dan Ridwan 73 persen.

"Sedangkan elektabilitas secara head to head, antara Ahok dan Ridwan, Ahok peroleh 42,5 persen dan Ridwan 38,6 persen dan yang belum memutuskan 3,8 persen. Antara Ahok dan Risma, Ahok peroleh 42,8 persen dan Risma 37,3 persen," lanjut Eko.

Peneliti CSIS Philips J Vermonte yang hadir dalam diskusi itu mengatakan, hasil survei dapat memperlihatkan bahwa masyarakat sudah memiliki kecenderungan tentang pemimpin yang diinginkan.

"Masyarakat sudah punya pola tentang pemimpin yang bisa memimpin, bukan pejabat yang sekadar bisa politik. Dengan demikian masyarakat DKI sebenarnya punya spesifikasi tentang orang yang bisa memimpin DKI," ujar Philips.

Di sisi lain, survei ini juga menunjukkan, belum ada tokoh lokal yang bisa bersaing. "Ini juga kritik atas (warga) DKI Jakarta mau (pemimpin) ambil yang sudah jadi saja. Ini tak lepas dari cermin sentralisasi pemikiran bahwa di luar bisa pimpin DKI. Juga bisa jadi karena pemimpin Jakarta brengsek semua," kata Philips.

Ucapan Philips terbukti dengan hasil survei terhadap nama Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Politikus PPP itu hanya mendapatkan elektabilitas 4,6 persen suara saja.

Peneliti Cyrus Network, Eko David mengatakan, rendahnya tingkat keterpilihan Lulung memperlihatkan kecenderungan warga Jakarta tak melulu memilih putra-putri lokal sebagai pemimpin mereka.

"Bisa jadi publik sudah punya frame soal tokoh yang layak memimpin Jakarta. Meski dari luar daerah, yang penting mempunyai prestasi. Tokoh politik dan pengusaha bukan model pemimpin DKI," kata Eko dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (6/5). (mdk/bal)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP