Diplomasi soto Solo saat Sekjen PDIP bertemu Cak Imin
Merdeka.com - Politik kuliner kembali menjadi tema penting PDI Perjuangan saat berdialog dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Selasa (10/4) kemarin. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto membawa soto Solo untuk disantap bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dengan seluruh jajaran pengurus dan staf PKB.
"Soto Segar Solo itu sangat merakyat, senapas dengan substansi kunjungan Cak Imin ke makam Pak Marhaen. Soto ayam tersebut juga digemari Bu Mega dan Pak Jokowi. Jadi dari lidah dan perut saja, kita semua berselera yang sama," ucap Hasto di Jakarta, Rabu (11/4).
Hasto mengungkapkan, dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah hal terkait politik, baik pilpres maupun pilkada. Pengurus PDIP berkunjung untuk menegaskan hubungan nasionalis-Islam antara PDIP dengan PKB.
Hasto menuturkan, dia sengaja membawa soto Solo untuk menunjukkan kecintaan pada kuliner Nusantara. Selain itu, dengan santap bersama diharapkan hubungan PDIP-PKB yang berjalan baik sejak lama dapat terus terjaga.
"Sekaligus memperkuat emotional bonding antara kedua partai yang disatukan oleh komitmen sebagai partai pengusung Pak Jokowi, maka sengaja PDIP membawa Soto Segar Solo," ujarnya.
Soto Solo yang dibawa itu berasal dari kampung halaman Joko Widodo. Soto tersebut disantap bersama sehingga pembahasan terkait politik jadi lebih rileks.
"Ini bukan hanya diplomasi makanan dengan membawa ciri khas makanan tempat Pak Jokowi berasal, namun lebih jauh menjadi simbol bahwa melalui makan bersama, maka berbagai persoalan bangsa dapat dibahas dengan lebih rileks, dan perspektifnya lebih luas," ujarnya.
"Suasana yang santai dan keakraban sambil menikmati Soto Segar benar-benar membawa suasana kekeluargaan," tambah Hasto.
Pengamat politik dari Indonesia Political Review, Ujang Komarudin, menilai PDIP sangat kreatif memainkan politik kuliner. Bagi dia, cara tersebut sangat tepat mendinginkan suhu politik saat memanas.
"Itu kreativitas elite PDIP. Merupakan langkah yang baik untuk mencairkan suasana politik. Budaya membawakan kuliner kepada orang yang akan didatangi adalah budaya asli Indonesia yang harus tetap dilestarikan," ujar Ujang.
"Sejak dulu juga kita mengenal bahwa urusan-urusan politik yang berat bisa diselesaikan dengan cepat hanya di meja makan. Ya di meja makan. Tentu dengan makanan kuliner yang menggoda selera," pungkasnya.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya