Di debat capres, Jokowi dan Prabowo harus hati-hati ungkap data
Merdeka.com - Direktur Soegeng Sarjadi School of Goverment (SSSG), Fadjroel Rahman mengatakan, dua pasang capres-cawapres harus hati-hati dalam mengungkap data saat debat capres berlangsung. Utamanya saat menyebut angka dan nilai.
Sebab, jika keliru dalam menyebutkannya maka akan menjadi sasaran empuk bagi lawannya. Dia mencontohkan, pernyataan capres Prabowo Subianto mengenai jumlah kabupaten di Indonesia saat debat terbuka capres-cawapres pertama.
"Berapa jumlah kabupaten atau kota 500 itu bohong. Masa mau jadi presiden itu kalau sudah dalam kelompok debat, mengutip angka salah jadi sasaran paling empuk. Mau pimpin kabupaten kota yang mana kalau cuma 500. Yang benar 845," ungkap Fadjroel di Media Center Jokowi-JK, Jl Cemara nomor 19, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (13/6).
Fadjroel menilai, pada debat kedua yang akan diadakan pada Minggu (15/6) mendatang pasangan Jokowi-JK akan lebih tenang. Sebab, mereka akan menggunakan pengalaman kerjanya sebagai materi dalam diskusi.
"Tenang saja, sampaikan apa yang sudah dikerjakan, sudah, itu sikap Jokowi menyampaikan pikiran sederhana. Sedangkan Prabowo-Hatta akan bekerja dan Jokowi-JK telah bekerja, selesai. Itu perbedaan. Debat lima kali yang kelihatan itu aja," tegasnya.
Dia mengungkapkan, perbedaan Jokowi dan Prabowo dalam empat debat selanjutnya akan sangat terlihat. Jokowi sudah melakukan pekerjaan secara nyata di Solo dan Jakarta, sedangkan Prabowo baru merencanakan. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya