Calon pendamping Gus Ipul di menit akhir
Merdeka.com - Rabu (10/1) adalah hari terakhir pendaftaran pasangan calon di Pilkada serentak 2018. Pilkada Jawa Timur salah satu yang menjadi sorotan. Terlebih, calon kuatnya, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul belum memiliki pendamping.
Gus Ipul yang diusung PKB dan PDIP awalnya berpasangan dengan Abdullah Azwar Anas. Namun pada 6 Januari 2017 lalu pasca isu foto mirip Bupati Banyuwangi itu beredar luas di kalangan terbatas, Anas memutuskan mengembalikan mandatnya kepada PDIP.
PKB menyerahkan nama pendamping Gus Ipul kepada PDIP. Sebab, jatah Gus Ipul, sudah menjadi bagian dari PKB sehingga posisi cawagub diisi oleh PDIP.
Namun PDIP memutuskan untuk mengumumkan pendamping Gus Ipul pada hari terakhir pendaftaran Pilkada serentak. Sederet nama telah disebut, mulai dari Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, Bupati Ngawi, Budi 'Kanang' Sulistiono, lalu Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Sri Untari.
Gus Ipul menyambut baik tiga nama yang diusulkan sebagai pengganti Azwar Anas.
"Gus Ipul sudah bisa tertawa. Gus Ipul sudah merasa ada arah yang lebih baik untuk pasangan dari Gus Ipul tersebut," ujar sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto di kediaman Megawati, Teuku Umar, Jakarta Pusat, Selasa (8/1).
Di luar itu, ada nama lain yang muncul yakni anggota DPR Puti Guntur Soekarnoputra dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Namun lagi-lagi, PDIP ogah membocorkan, memutuskan untuk menunggu pengumuman resmi nanti.
Puti hingga Selasa (9/1) malam ini sulit dihubungi, pesan singkat yang dikirim untuk mengonfirmasi hal itu juga tak terbalas. Sementara Risma, sejak jauh hari telah menyatakan menolak untuk maju di Pilgub, dia ingin fokus mengurus warga Surabaya hingga masa bhaktinya selesai tahun 2020.
Tapi Hasto membantah kabar Puti merapat ke Teuku Umar. Dia masih menutup rapat-rapat nama cawagub Gus Ipul.
"Enggak ada enggak ada. Sahabat sahabat ibu saja untuk persiapan ulang tahun ibu jadi ada kita membahas terkait persiapan ibu pada tanggal 23 Januari," kata Hasto.
Namun pesan keras disampaikan oleh Wasekjen PDIP Ahmad Basarah. Basarah menyindir kader PDIP yang notabene petugas partai tapi justru menolak perintah dari ketum Megawati Soekarnoputri.
"Dalam fatsun PDIP tidak ada tempat bagi mereka yang mengaku sebagai petugas partai di PDI Perjuangan, melakukan tawar menawar apalagi menolak perintah Ketum," katanya di DPP PDIP, Jakarta Pusat, Selasa (9/1).
Basarah mengatakan, hal itu berlaku kepada semua kader PDIP tanpa terkecuali. Kepala Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR itu mengaku tidak menyentil seseorang.
Pernyataan keras Basarah ini menimbulkan spekulasi bahwa Risma yang diinginkan PDIP menggantikan Azwar Anas, tapi menolak. Saat dikonfirmasi soal sindiran itu kepada Risma, Basarah menjawab diplomatis.
"Anda silakan cek saja siapa kader PDIP yang menolak-menolak perintah ibu Ketum," ucap Basarah.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya