Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bongkar pemukiman Bukit Duri, bukti Ahok bukan pemimpin 'jaim'

Bongkar pemukiman Bukit Duri, bukti Ahok bukan pemimpin 'jaim' Basuki Tjahaja Purnama. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Ketua Koorbid Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar Nusron Wahid angkat bicara soal pembongkaran pemukiman Bukit Duri yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dia menilai Ahok adalah tipikal pemimpin yang tanpa pamrih.

Artinya, tindakannya sebagai pemimpin didasarkan pada kebutuhan perbaikan untuk ke depannya, bukan berdasarkan keinginan dirinya pribadi.

"Buktinya, dia berbuat berdasarkan kebutuhan kekinian. Bukan keinginan. Dia memikirkan kondisi makro dan jangka panjang Jakarta, tanpa pernah berpikir tentang popularitas dan elektabilitas dirinya, menjelang Pilkada," kata Nusron dalam keterangannya, Kamis (29/9).

Menurut Nusron, jika seorang pemimpin mengedepankan sikap menjaga image alias jaim maka setiap hendak melakukan sesuatu selalu melihat faktor populis. Dia mencontohkan, seorang pemimpin jaim menjelang pemilihan untuk menaikkan harga BBM saja tidak berani.

Padahal hal itu, kata dia, merupakan kebutuhan fiskal untuk menyehatkan ekonomi. Tetapi pada kenyataannya rata-rata pejabat takut dengan kebijakan yang tidak populis meski itu merupakan kebutuhan.

"Tapi Ahok memang lain. Kalau memang benar dan on the track dia lakukan. Tidak peduli dengan politisasi lawan politiknya," katanya.

Nusron mengatakan, setiap tokoh atau pemimpin memang mempunyai gaya masing-masing. Ada yang seminaris, fashionis (penampilan), dan ada juga yang action. Ahok, kata Nusron, masuk kategori yang action untuk mengejar legacy.

"Setiap pemimpin ada masa dan gayanya. Sebaliknya setiap masa ada pemimpinnya. Saya yakin model kepemimpinan aksi nyata yang dilakukan oleh Ahok inilah yang dibutuhkan masyarakat Jakarta saat ini. Sebab menyelesaikan masalah akut yang kompleks di Jakarta ini butuh kepemimpinan yang proper, proven dan delivered, seperti yang sudah dilakukan Ahok," ujarnya.

Menyelesaikan masalah Jakarta, lanjut Nusron, tidak dibutuhkan sekadar jargon indah dan susunan mutiara kata yang filosofis. Apalagi dengan penampilan yang sekadar ganteng.

"Jakarta ya butuh kerja nyata, meski tidak populer. Daripada sok populis tapi tidak delivered dan masalah tidak teratasi," katanya.

Menurut Nusron, relokasi sejumlah kampung kumuh di tanah milik publik, seperti Kalijodo, Luar Batang, Rawajati, Kampung Pulo dan Bukit Duri, merupakan langkah solutif yang harus dilakukan demi menyelamatkan rakyat yang lebih luas. Atas upaya itu, kata dia, seharusnya semua pihak justru wajib membantu memberikan pengertian kepada warga yang tinggal di tanah negara yang tidak seharusnya dijadikan pemukiman. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini, dapat menciptakan banjir.

"Kalau banjir ya kita semua yang repot. Ini yang harus disadarkan. Bukan malah dijadikan komoditi politik," pungkasnya. (mdk/dan)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP