Benarkah masyarakat rindu capres mantan militer?
Merdeka.com - Nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo digadang-gadang bakal diperhitungkan dalam Pilpres 2019 mendatang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Segitiga Institute, banyak masyarakat yang mulai melirik Gatot sebagai calon presiden. Dengan berlatar belakang militer, jenderal bintang empat ini dianggap mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Pengamat politik dari lembaga Populi Center Usep S Ahyar menilai saat ini belum ada sosok yang ideal dari kalangan militer yang memiliki kapabilitas menjadi orang nomor satu di Indonesia. Dia menganggap, munculnya nama Gatot adalah sebagai upaya untuk membangun opini publik.
"Saya kira dari kalangan militer sudah enggak ada, kan itu dikotomi civil militer ya. Ketika itu saat memunculkan tokoh militer, adalah kepentingan membangun opini publik. Sekali lagi analisis itu dilakukan dengan metode yang jelas, respondennya berapa, bagaimana pemilihan sampelnya," kata Usep saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (30/1).
Dia mengungkapkan, pihaknya juga pernah melakukan survei serupa pada Oktober 2015 lalu. Dan hasilnya pun berbeda, tokoh-tokoh dari kalangan militer tidak cukup menonjol. Dari hasil tersebut, nama-nama seperti Presiden Joko Widodo, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto masih bertengger di urutan teratas.
"Kalau dalam survei kita, yang terbesar masih Pak Jokowi, Pak Prabowo paling di luar itu ada Pak Ahok yang kami lakukan. Survei pada Oktober 2015, terlalu jauh (Gatot) ya tidak ada, tidak ada. Sekarang ini dari kalangan ini habis masanya Pak SBY, elektabilitas dari pihak militer sudah selesai deh, sekarang tidak relevan," jelasnya.
Latar belakang militer yang identik dengan kewibawaan, disiplin dan tegas, menurutnya bukan jaminan. Untuk menjadi Presiden di masa sekarang, lanjut Usep, adalah tokoh yang bisa menjalin hubungan baik antar lembaga. Hal tersebut dibutuhkan selain sisi kepemimpinan personal tokoh tersebut.
"Tapi kan kemudian kita analisis runtuhnya aura kepemimpinan yang sering diidentikkan militer bahwa tegas, disiplin mengambil keputusan, berwibawa itu runtuh sejak masanya pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Yang harus diingat kemampuan kepemimpinan personal menjadi tidak relevan lagi karena dibutuhkan hubungan kelembagaan," tandas Usep.
Seperti diketahui, Segitiga Institute menyebut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dapat menjadi pesaing besar bagi elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 mendatang. Dari hasil survei yang dilakukan Segitiga Institute beberapa waktu lalu, sebanyak 35,9 persen, responden memilih Gatot sebagai calon presiden yang berlatar belakang militer.
Direktur Eksekutif Segitiga Institute Muhammad Sukron, nama Gatot lebih kuat daripada mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang hanya mendapat 22,6 persen dukungan dari responden.
"38,5 persen responden memilih Gatot, 22,6 persen responden memilih Moeldoko, 27,4 persen responden memilih Djoko Suyatno, sementara Agus Suhartono 14,1 persen," kata Sukron ?dalam sebuah diskusi bertajuk 'Kerinduan Publik Pada Sosok Militer' di Jakarta, Sabtu (30/1).
Kendati begitu, Sukron mengatakan saat nama Gatot disandingkan dengan Jokowi, persentasi pemilih masih berpihak kepada mantan Gubernur DKI tersebut. Jokowi unggul dengan posisi 59,3 persen sedangkan Gatot berada di posisi 38,5 persen.
"Sedangkan responden yang tidak memilih hanya sebesar 2,2 persen," ujar dia.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya