Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Anies Dinilai Sulit Maju Capres jika PKS Bergabung Koalisi Gerindra-PKB

Anies Dinilai Sulit Maju Capres jika PKS Bergabung Koalisi Gerindra-PKB anies baswedan di acara nasdem. ©2022 Merdeka.com/delvira hutabarat

Merdeka.com - Peluang mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang dinilai lebih sulit jika PKS batal merapat dengan koalisi NasDem dan Demokrat. Sebab NasDem dan Demokrat belum memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden untuk mengusung seorang calon.

NasDem diketahui hanya meraih 9,05% dan Demokrat mendapat 7,77% suara sah nasional dalam Pemilu 2019. Jika digabung, suara kedua parpol hanya 17,82 persen.

Sementara berdasarkan pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu syarat koalisi parpol peserta Pemilu mengusung capres-cawapres minimal memperoleh kursi 20 persen di DPR atau 25 persen jumlah suara sah nasional pada Pemilu 2019 lalu. Artinya NasDem dan Demokrat masih membutuhkan satu mitra koalisi untuk mengusung capres.

"Jika PKS bergabung dengan Prabowo, maka peluang Anies untuk maju menjadi lebih sulit," kata Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad kepada merdeka.com, Sabtu (5/11).

Di sisi lain Saidiman melihat ada peluang bagi PKS untuk bergabung dengan koalisi Gerindra-PKB. Hal tersebut dikarenakan kepentingan PKS tidak terakomodir NasDem dan Demokrat.

"Jika kepentingan PKS tidak terpenuhi dalam rencana koalisi dengan NasDem dan Demokrat, maka ada peluang bagi PKS untuk bergabung dengan Gerindra," kata Saidiman.

Selain itu menurut dia, tidak ada hambatan komunikasi bagi PKS dan Gerindra untuk menjajaki koalisi. Mengingat kedua parpol dalam dua kali edisi Pemilu yaitu 2014 dan 2019, sama-sama mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

"Jika PKS bergabung dengan Gerindra dan PKB, maka tentu Prabowo akan mendapatkan tambahan dukungan dari basis massa yang sebelumnya juga mendukung mereka. Sebagian pendukung lama Prabowo yang lari ke Anies, mungkin akan kembali mendukung Prabowo," ucap dia.

Parpol DPR Gabung Koalisi Gerindra-PKB

Sebelumnya diberitakan, partai Gerindra dan PKB dikabarkan akan mendapatkan kekuatan baru dari dua partai politik yang akan bergabung dalam koalisinya. Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad tak menampik terkait hal tersebut.

Dia mengakui bahwa dua partai politik saat ini tengah berkomunikasi intens dengan Partai Gerindra dan PKB.

"Partai yang akan kita ajak berkoalisi tentunya masih dalam komunikasi yang intensif," kata Dasco, saat diwawancarai di Gedung Nusantara III DPR RI, Kamis (3/11) malam.

Kendati demikian, Dasco enggan sesumbar dan memberi tahu partai politik mana yang akan bergabung dalam koalisi Gerindra dan PKB. Namun, kembali bergabungnya partai politik lain bukan lah hal yang tidak mungkin.

"Ya namanya juga penjajakan koalisi. Bahwa apa yang disampaikan Pak Muzani itu bukan juga hal yang tidak mungkin," ucapnya.

"Namun kami juga tidak mau mendahului menyebutkan nama-nama partai tersebut, takut juga akan mengganggu komunikasi-komunikasi yang sudah ada," sambung Wakil Ketua DPR RI itu.

Sementara itu, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengungkapkan ada sinyal kuat partai parlemen yang bakal bergabung dalam koalisi Gerindra dan PKB. Sebab, jika hanya dua partai saja tidak memungkinkan untuk mendapat kemenangan pada Pemilu 2024.

"Ya harapan Pak Prabowo dan Pak Muhaimin seperti itu (bertambah partai). Koalisi ini tidak hanya dengan Gerindra dan PKB, tapi tiga sampai empat partai politik. Sehingga jika dimungkinkan parpol koalisi PKB gerindra bisa bertambah 1 sampai 2 partai lagi," katanya di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (2/11).

Kendati demikian, dia enggan menjelaskan lebih detail siapa partai parlemen yang akan bergabung dengan Gerindra dan PKB.

"Sinyalnya nanti belakangan, tapi ya InsyaAllah sudah ada mulai pembicaraan. Warna-warna sudah mulai kelihatan, tapi warna-warna itu gelap lagi, kadang-kadang terang lagi, kira-kira seperti itu," imbuh Muzani.

PKS Tegaskan Solid dengan NasDem dan Demokrat

Diketahui, saat ini ada tiga poros politik yang telah bersiap bertarung di Pemilu 2024. Selain koalisi Gerindra dan PKB. Ada Golkar-PAN-PPP serta NasDem-Demokrat-PKS. PDIP bisa mencalonkan presiden tanpa perlu berkoalisi.

Merunut ke belakang, teman koalisi Gerindra pada Pemilu 2019 yakni PKS dan PAN. Sebelumnya, kabar PKS diajak bergabung oleh pemerintah memang berhembus kencang. Bahkan bakal diganjar dua kursi menteri.

Jubir PKS, Kholid menegaskan, koalisinya sudah 90 persen akan bergabung dengan Koalisi Perubahan bersama NasDem dan Demokrat. Meskipun, dia mengakui tak menutup kemungkinan parpolnya berubah arah koalisi.

Termasuk soal komunikasi Gerindra dan PKS. Menurut dia, wajar jika dua parpol ini membangun komunikasi. "Sejauh ini ya komunikasi biasa saja. Silakan kontak Sekjen Habib Aboe. Beliau kan dekat dengan Pak Sufmi Dasco, kolega di DPR RI," kata Kholid.

PKS Digoda PKB

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin juga pernah menyampaikan harapan agar PKS bergabung dengan koalisinya. Kata dia, pendekatan sedang dilakukan antara koalisi Gerindra-PKB dengan PKS.

"Terus kita pendekatan. Saya berharap PKS bisa masuk," ujar Cak Imin pada Minggu (23/10).

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Sohibul Iman mengakui, ada informasi PKS ditawari dua kursi menteri. Namun bukan langsung datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kami telusuri info ini, katanya itu usulan dari seorang menteri yang juga ketum sebuah partai. Konon Pak Jokowi senang dengan usulan tersebut," ujar Sohibul saat dikonfirmasi merdeka.com

Seorang politikus dari parpol pemerintah membenarkan informasi dari Sohibul. Menurut dia, orang tersebut adalah Menteri Pertahanan. "Pak Prabowo," kata Sumber ini.

Hingga kini, Istana tak memberikan komentar tentang tawaran dua kursi menteri untuk PKS. Gerindra juga belum memberikan tanggapan tentang usulan Prabowo kasih dua kursi menteri untuk PKS.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB Saiful Huda juga mengungkap, kriteria partai yang tengah didekati oleh koalisi Gerindra-PKB. Partai itu adalah yang pernah berkoalisi dengan Gerindra di Pilpres sebelumnya. Serta ada partai yang pernah berkoalisi dengan PKB di Pilpres sebelumnya.

Huda menjelaskan, kedua partai memang berbagi peran masing-masing untuk mendekati partai politik. Gerindra berperan mendekati partai yang pernah berkoalisi di Pilpres sebelumnya.

"Kami berbagi peran. Mana partai yang selama dalam putaran Pilpres sudah membangun koalisi dengan Gerindra, berarti Gerindra concern di partai-partai yang selama ini dalam setiap putaran Pilpres menjadi bagian koalisi Gerindra," ujar Huda ketika berbincang dengan merdeka.com, Kamis (3/11).

PKB juga mengambil peran untuk mendekati partai yang pernah membangun kerjasama politik di Pilpres. "PKB mengambil peran yang selama ini dalam pilpres menjadi bagian dari koalisi PKB kita mendekat," imbuh Huda.

Berbagi peran ini dilakukan karena PKB dan Gerindra baru kali ini bekerjasama. Kedua partai memiliki jejaring yang berbeda. Maka untuk mendekati partai pun saling berbagi tugas. Namun, Huda belum mau mengungkap ke publik partai mana yang sedang didekati dua partai.

"Itulah yang sedang terus berbagi peran untuk mengajak partai-partai yang ada kedekatan kita ajak," kata Huda.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP