Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Andi Arief: AHY Diuji Sebagai Kader, Tidak Ujug-Ujug Seperti Moeldoko

Andi Arief: AHY Diuji Sebagai Kader, Tidak Ujug-Ujug Seperti Moeldoko AHY tanggapi KLB Demokrat. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, Andi Andi Arief mengatakan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) diuji sebagai kader sebelum menjabat ketua umum. Hal itu berbeda dengan Moeldoko yang kini menjadi Ketum Demokrat versi KLB Deli Serdang.

"AHY masuk daftar ke Demokrat tahun 2016 saat Pilkada DKI. Karena Ibu Ani sakit dan AHY harus menjaga, Partai menugaskan kepadanya sekaligus menguji dalam tugas pemenangan Pilkada 2018 dan Kogasma saat Pileg 2019. Diuji dulu sebagai kader, tidak ujug-ujug. Ini beda dengan Pak Moeldoko," katanya di Jakarta, Kamis (11/3).

Menurutnya, sebelum Pileg 2019 AHY safari ke daerah hingga jelang Pileg tersebut Demokrat meraih suara 7,8 persen. Hal tersebut bertolak belakang dengan sikap kubu Moeldoko.

"Meski sulit, Pileg 2019 Demokrat dapat 7,8 persen. AHY turun ke banyak dapil pemilihan naikkan suara sebelum pileg semua lembaga survei sebut elektabilitas Demokrat kisaran 4-5%. Darmijal, Pak @marzukialie_MA apalagi Moeldoko tak pernah mau tahu situasi partai saat itu," ujarnya.

Andi menambahkan, setelah Pileg 2019, AHY dalam perubahan susunan pengurus menjadi wakil ketua umum partai. Ia mengisi kekosongan jabatan waketum yang mengundurkan diri.

"Susunan pengurus baru itu disetujui juga dengan SK Menteri Kumham. Jadi AHY beda lagi dengan Moeldoko, yang tak berkeringat di Demokrat," ucapnya.

Selain itu, dia menerangkan, perubahan AD/ART setiap kongres Demokrat dirancang sesuai dinamika organisasi. Serta, sesuatu dinamika politik dan hasil diskusi yang panjang dan ilmiah.

"Bahkan untuk mencari ketum yang bisa mengangkat suara partai dihitung matang sebagai strategi. Sejak SBY tidak jabat presiden, Marzuki Alie, Darmizal, dan kawan-kawan menghilang," jelasnya.

Andi kemudian menyindir kubu KLB Demokrat Deli Serdang. Dia berharap Moeldoko segera bertaubat.

"Mudah-mudahan Pak Moeldoko memahami gagalnya kudeta keblinger dan bertobat. Partai Demokrat bukan partai yang pragmatis akibat perbuatan beberapa kader. Jhoni Alen dan Nazaruddin serta Marzuki Alie memang pernah sukses gunakan pragmatisme dalam Kongres 2010. Sekarang zaman sudah beda," tuturnya.

Selain itu, dia mengungkapkan, kongres 2020 Demokrat tidak mendesain AHY untuk menang secara aklamasi sebagai ketum. Menurutnya, ada aspirasi dari pemilik suara dan AHY didukung 95 persen DPC.

"Jelang Kongres 2020, SBY Ketua Majelis Tinggi dapat aspirasi tertulis dari semua ketua DPD/DPC. Ada tiga aspirasi, calonkan kembali SBY, ikut arahan SBY, mencalonkan AHY. Kongres Tidak didesain aklamasi, dibuka bagi kader ingin calonkan diri. Saat pendaftaran, AHY didukung 95 persen DPD/DPC," katanya.

Andi menjelaskan, saat kongres itu AHY merupakan calon tunggal Ketum Demokrat. Dia pun mendapat dukungan banyak dan langsung terpilih secara aklamasi.

"Karena hanya AHY yang mendaftar saat kongres dan angka dukungan menurut tatib aklamasi, dalam tatib bisa mencalonkan diri 25 persen, maka seluruh peserta kongres mendukung AHY secara aklamasi. Sedangkan jabatan Ketua Majelis Tinggi tetap SBY karena amanat Kongres 2015 Surabaya," pungkasnya.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP