Anas mundur, ke mana para loyalisnya?
Merdeka.com - Anas Urbaningrum mengundurkan diri dari posisi ketua umum Partai Demokrat karena menjadi tersangka kasus dugaan suap Hambalang. Pengumuman mundur itu langsung disampaikan Anas dalam jumpa pers di kantor DPP Partai Demokrat, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2) lalu.
Tak seperti biasanya, dalam jumpa pers itu tak nampak para loyalis Anas di Demokrat yang biasanya selalu mendampinginya. Tak hanya itu, para loyalis yang biasanya membela Anas mati-matian melalui pernyataan di media juga seakan tak berani mengeluarkan suaranya setelah Anas mundur.
Sekretaris DPD Partai Demokrat Irvan Ghani misalnya. Irvan yang biasanya berapi-api membela Anas tiba-tiba diam. Saat merdeka.com mencoba menghubunginya melalui telepon seluler dia tak menjawab.
Hanya Tri Dianto yang masih berapi-api membela Anas. Selang beberapa jam usai Anas mundur, Tri langsung mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua DPC Partai Demokrat Cilacap. Selain Tri, Rahmat Hidayat juga mundur dari posisi Wakil Direktur Eksekutif Partai Demokrat. Lantas kemana para loyalis Anas yang lain?
"Saya melihat ini kecenderungan pragmatis dalam politik jauh lebih besar dari pengaruhnya daripada loyalitas. Umumnya para elite atau orang-orang yang tadinya setia ke Anas akan memilih pragmatis dari pada setia kepada Anas," kata pengamat politik Charta Politika, Arya Fernandez, kepada merdeka.com, Senin (25/2).
Arya menyatakan, dalam dunia politik tak ada yang abadi, begitu juga dengan loyalitas dan persahabatan. Sebab, hidup di dunia politik berdasarkan kepentingan.
"Saya kira pragmatis saja. Kalau mereka secara terbuka menunjukkan loyalisnya kepada Anas mereka khawatir akan dipecat partai, karena membangkang atau dicoret dari daftar caleg," katanya.
Menurutnya, meski Anas memiliki jaringan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Demokrat, hal itu bukan sebuah jaminan lagi. Sebab, saat ini Anas sudah bukan lagi ketua umum Partai Demokrat. Karenanya, Anas secara politik sudah tidak lagi memiliki kekuatan.
"Itulah wajah politik kita," katanya.
Dia menilai, setelah Anas ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Anas mulai kesulitan menjaga simpul politiknya di partai besutan SBY itu. Sebab, para loyalis Anas sudah mengetahui Anas tak akan lama menjabat ketua umum setelah ditetapkan sebagai tersangka.
Hal itu sesuai Pakta Integritas yang telah ditanda tangani seluruh kader Demokrat yang salah poinnya adalah kader yang terjerat kasus korupsi harus mundur dari Demokrat.
"Potensi simpul-simpul Anas berantakan ada. Tapi sejauh mana simpulnya tercerai kita belum tahu," katanya.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya