Waspada aksi terorisme, Pangdam Hasanuddin pelototi jalur perbatasan
Merdeka.com - Tak mau kecolongan seperti bom bunuh diri di Kampung Melayu beberapa waktu lalu, tiga provinsi yakni Sulsel, Sulbar dan Sultra akan memperketat kegiatan intelijen dan teritorial. Tiga wilayah ini masuk ke dalam hukum Kodam XIV/Hasanuddin.
"Kita tidak ingin aksi-aksi teror serupa terjadi di wilayah kita. Saya berharap semua masyarakat khususnya di bulan Ramadan ini dan menghadapi hari raya atau lebaran nanti, mari kita jaga bersama. Kalau ada sesuatu yang aneh-aneh, segera laporkan," kata Panglima Kodam (Pangdam) XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti kepada wartawan saat hadiri undangan buka puasa bersama pengurus Wahda Islamiyah di masjid Darul Hikmah kantor pusat Wahda Islamiyah di jl Antang Raya, Makassar, Sabtu, (3/6).
Mantan deputi bidang pencegahan, perlindungan dan deradikalisasi di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini mengungkap, berdasarkan hasil pemetaan di tiga provinsi yang menjadi tanggung jawab tugasnya, pihaknya meningkatkan kegiatan intelijen dan teritorial.
"Yang saya cermati itu adalah daerah perbatasan. Jadi, ada dua ancaman yakni ancaman dari luar, maka saya mewaspadai di perbatasan khususnya di wilayah Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Kita tahu di daerah Sulawesi Barat itu banyak sekali lokasi yang menjadi sebuah potensi tempat bersembunyi dan berlatih (teroris) berdasarkan kondisi geografi dan demografinya. Lalu yang kedua adalah ancaman dari dalam. Masih ada saudara-saudara kita yang belum menyadari, tidak mau menjaga rasa aman. Mari kita sadari bersama," jelasnya.
Kebersamaan, kekompakan itu sangat penting, Kata Agus Surya Bakti, tidak mungkin Polri saja yang bekerja. Justru yang paling penting adalah peran masyarakat itu sendiri. Misalnya, Wahda Islamiyah, salah satu ormas Islam yang berpusat di Sulsel, agar turut memberikan dakwah, pencerahan di tengah masyarakat termasuk unsur media untuk melakukan pencerahan di jalur informasi.
Dan bagi pihaknya sendiri dari TNI, menyikapi aksi-aksi teror ini, kata Agus, yang dia lakukan adalah secara perwilayahan melalui Korem, Kodim diminta untuk menggandeng para muballigh, ulama di wilayah tugasnya masing-masing agar mewaspadai kelompok-kelompok garis keras.
Kepada warga yang punya pemahaman berbeda, diminta untuk tidak membawa ke lingkungannya. Boleh beda pemahaman, beda pendapat tapi jangan dipaksakan untuk diterima oleh orang atau pihak lain.
"Islam tidak mengajarkan paksaan kecuali zaman dulu saat masih zaman perang," ujarnya sebelum bertolak meninggalkan kantor pusat ormas Wahda Islamiyah itu didampingi Rahmat Abdurrahman, Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah.
Jenderal dua bintang ini mewanti-wanti agar tidak ada warga berinisiatif melakukan tindakan-tindakan yang mencederai ajaran agama. Ajaran dalam Alquran dan hadist itu sesungguhnya adalah mengajarkan kedamaian, persaudaraan dan anti kekerasan.
Sementara itu, menyikapi ancaman-ancaman dari luar dan dari dalam ini, DR Rahmat Abdurrahman mengatakan, Wahda Islamiyah sedari awal bersama ormas-ormas di Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga ke tingkat pusat berperan aktif menggalang seluruh ormas Islam yang ada untuk bersatu dalam menolak semua pemahaman yang keras yang sesungguhnya sudah sangat menyimpang itu.
Selain itu, tambahnya, Wahda Islamiyah juga bersama aparat keamanan untuk menyebarkan pemahaman yang baik kepada saudara-saudara muslim yang mungkin saja terjebak.
Bahkan, kata Rahmat Abdurrahman, Wahda Islamiyah punya program berdakwah di lembaga-lembaga pemasyarakatan juga rumah-rumah tahanan untuk bertemu tahanan termasuk tahanan masalah terorisme untuk berbagi, sebenarnya apa yang mereka ingin lakukan untuk negara dan apa yang bisa Wahda Islamiyah lakukan untuk negara ini. Karena pihaknya tidak mau ada elemen bangsa yang merasa didzalimi, disakiti dan akhinya merusak.
"Dalam diskusi terbuka kami dengan tahanan-tahanan masalah terorisme itu, mereka menganggap bahwa sekarang ini telah terjadi perang global sehingga mereka ikut bersama dalam perang global itu dan seakan-akan itu adalah upaya untuk mengurangi tekanan terhadap umat Islam," ujarnya.
Dia menegaskan, pemahaman seperti itu salah. Perang global boleh saja terjadi, kata dia, tapi perlu diingat bahwa Indonesia itu negara damai, tidak mungkin menarik konflik itu ke negara Indonesia.
"Karena negara kita ini adalah negara damai, tidak pernah seorang pun muslim Indonesia yang ingin menjadikan negaranya negara konflik," tutup dia.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya