Warisan perjuangan empat pemuda dari kampus Trisakti
Merdeka.com - "Empat abang kami sangat menginspirasi karena sangat jarang orang yang seberani mereka," kata Ayu, salah satu mahasiswi Jurusan Ekonomi Universitas Trisakti saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (4/5).
Di sudut kampus terletak di bilangan Grogol, Jakarta Barat itu, Ayu bercerita dengan antusias bagaimana dia mengenang empat seniornya yang tewas pada Tragedi 12 Mei 1998. Ayu paham betul kenapa empat kaka kelasnya itu harus turun ke jalan dan pada akhirnya mesti merenggang nyawa. Lewat kata-kata yang lugas, dia pun memaparkan dan dapat memaklumi para mahasiswa kompak turun ke jalan menuntut Soeharto mundur.
"Pada saat itu terjadi banyak keributan. Di mana harga-harga sembako pada naik semua kan. Banyak demo, dan pada saat itulah terjadi penembakan empat mahasiswa Trisakti. Dan saat itulah sampai sekarang masih sangat teringat tragedi 12 Mei itu," katanya.
Ayu mengaku memutuskan kuliah di Trisakti, dan berharap semangat dari empat seniornya itu dapat melecutnya menjadi sosok inspiratif.
"Ya semua orang inginnya jadi orang yang inspiratif. Mungkin caranya berbeda, misalnya berprestasi gitu," kata mahasiswi angkatan 2014 ini.
Ayu menyatakan, saat ini menjadikan empat mahasiswa seniornya itu sebagai salah satu idolanya. Dia berharap dapat dikenang sama halnya dengan mereka, tetapi dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menjadi mahasiswi yang berprestasi dan dapat mengharumkan almamaternya.
Ditemui terpisah, Nurwaidah, mahasiswi Jurusan Ekonomi lainnya mengutarakan pernah ikut turun ke jalan tahun lalu. Dia beralasan ikut dalam aksi buat menyadarkan pemerintah harus menuntaskan kasus tragedi 12 Mei 1998, yang sudah 18 tahun belum juga mampu mengungkap dalang penembakan.
"Aksi-aksi itu sebenarnya minta penuntasan kasus, karena sampai sekarang ini belum ada. Bagaimana pun pemerintah juga turut andil karena ini kasus besar. Kami dari mahasiswa berharap kasus ini cepat terselesaikan," kata Nurwaidah.
Nurwaidah yang merupakan Anggota Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti berharap pemerintah lekas menuntaskan kasus itu. Sebab, dia pun merasa tak enak dengan sebagian masyarakat yang merasakan dampak dari aksi demonstrasi yang dia lakukan bersama teman-temannya.
"Karena kalau kita aksi juga kan ada sebagian masyarakat yang merasakan negatifnya, misalnya kena macet dan lain-lain," ucap Nurwaidah.
Jessica, mahasiswi Jurusan Akuntansi menyatakan, sejak tragedi itu kepala pemerintah sudah beberapa kali berganti. Namun tak pernah serius mengungkap tragedi 12 Mei.
"Pemerintah memang memberikan respon kurang baik. Dan responnya pun begitu saja setiap tahunnya, jadi kita bakal terus tuntut dan nanti akan dilanjutkan oleh adik-adik kita," kata Jessica yang juga pernah ikut dalam demonstrasi tahun lalu.
Jessica berkisah, sebelum kuliah dan masuk ke Universitas Trisakti, dia mengaku telah mengetahui ihwal tragedi 12 Mei. Namun, setelah masuk Trisakti, dia baru mengetahui fakta-fakta tentang tragedi 12 Mei secara mendalam. Hal itu dikarenakan semangat dari Universitas Trisakti yang terus menerus merawat kisah soal tragedi itu.
"Kadang-kadang dosen suka ada yang cerita. Di kampus juga kegiatannya memang sangat banyak tentang 12 Mei," kata Jessica.
Saat ini, Jessica mengemban tugas dari para seniornya memberikan pemahaman kepada para adik kelasnya, tentang kisah heroik dari empat seniornya yang meregang nyawa dalam insiden itu. Yaitu Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi). (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya