Warga Gitgit Bali, beri sesajen di tikungan jalur tengkorak
Merdeka.com - Beginilah Bali, begitu kental mempertahankan tradisi dan adat budayanya. Bahkan yang bukan menjadi urusan, mereka merasa berkewajiban menjaganya. Seperti yang dilakukan warga di desa Gitgit Kecamatan Sukesada, Buleleng.
Warga yang lingkungannya terkenal dengan air terjunnya di Bali. Menggelar prosesi upacara di jalan raya jalur Denpasar-Singaraja tepatnya di tikungan jalan air terjun kembar Gitgit. Ini dilakukan mengingat seringnya terjadi kecelakaan hingga menyebabkan korban jiwa di jalan tersebut.
"Hampir setiap tahun tikungan ini makan korban. Dan, sebagian besar korbannya adalah wisatawan lokal atau pelajar yang tour ke Gitgit," ujar salah seorang warga usai mengikuti prosesi upacara, Selasa (23/12).
Upacara yang dilakukan adalah pelepasan pelinggih (tugu) dan pecaruan manca sanak madurga. "Rentetan upacaranya sudah sejak hari minggu kemarin pak bertepatan dengan bulan tilem," tambahnya memastikan.
Katanya di lokasi ini, lebih sering rombongan tour yang menggunakan bus, kerap kali kecelakaan. Dari kecemplung jurang, terbalik hingga tabrakan. "Selalu ada saja yang mati pak," terangnya serius.
Karena hampir tiap tahun makan korban, dan sering terjadi kecelakaan. Maka desa adat melakukan paruman (rapat) desa, dan dapatlah pawisik untuk mendirikan sebuah pelinggih (tugu) di lokasi serta dilakukan upacara.
"Pembangunan pelinggih hingga melepas dan pecaruan menghabiskan dana sekitar Rp 25 juta, prosesi ini dilakukan mengingat seringnya ada masyarakat yang kesurupan agar di tempat tersebut dibuatkan pelinggih," terang Kelian Desa Pakraman I Made Rida, Selasa (23/12).
Katanya, semenjak tahun 1979 hingga tahun 2014 sekarang tidak pernah putus atau berhenti makan korban. "Semoga setelah upacara ini, siapa saja yang melintas disini diberikan keselamatan. Begitu juga dengan warga kami," ucap Rida. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya