Warga Buleleng menemukan guci dan gamelan kuno di kebun cengkeh
Merdeka.com - Temuan dua guci, tujuh gamelan dan dua mangkuk perunggu di kebun cengkeh milik Ketut Dana (70), menggegerkan warga Banjar Sekarsari, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Jumat (27/5).
Kini temuan tersebut disimpan keluarga Dana, lantaran dianggap sakral. Katanya saat ditemukan ketika Dana sedang menanam bibit cengkeh. Namun tiba-tiba cangkul yang diayun membentur benda keras.
"Awal ditemukan mangkuk perunggu, terus selanjutnya gamelan dan guci terakhir yang diangkat," tutur Dana, Jumat (27/5).
Diakuinya saat itu perasaan Dana bercampur tidak karuan antara khawatir, cemas, dan senang ketika menemukan benda-benda itu. Dia memutuskan tidak langsung mengangkat benda itu dan meminta menantunya, Komang Suardiasa (35) mengangkat dan membawa pulang.
Lokasi temuan benda-benda itu di samping pelinggih kecil. Di pelinggih yang sudah rapuh di area kebunnya itu, dia bersama suaminya biasa menghaturkan sesajen.
"Banyak masyarakat yang berkunjung ke sini untuk melihat-lihat. Barang paling langka berupa guci yang di dalamnya terdapat tujuh gamelan, dua mangkuk yang posisinya terbalik," ujar istrinya, Ni Ketut Suginari (60).
Saat ditemukan, kata Suginari kondisi gamelan dan mangkuk perunggu sudah berkarat. Suginari berusaha membersihkannya dengan serabut kelapa, tetapi karat itu tidak dapat hilang.
"Barangnya sudah berkarat, saya sikat pakai serabut kelapa tapi tidak mau hilang karatnya," katanya.
Dia mengaku masih belum melaporkan temuannya itu ke perangkat desa. Selama ini juga belum ada pihak yang bermaksud meneliti benda-benda itu.
Dia pun tidak berani menjual benda-benda itu. Di dalam rumah benda-benda itu disimpan dengan dibungkus saput putih kuning. Setiap purnama tilem keluarganya menghaturkan canang pada benda-benda itu.
"Saya tidak berani menjualnya, takut kenapa-kenapa. Setiap purnama tilem saya kasih canang, saya sembahyangi," ucapnya.
Sementara dia merasakan ada suasana yang aneh di lokasi ditemukannya benda-benda itu. Terlebih saat tanah bekas ditemukan benda itu ditanami cangkeh selalu saja mati.
"Saya merasakan aneh saja di tempat itu, hawanya panas. Kami cuma orang awam dan bodoh tidak tahu apa. Setiap kali tanah itu ditanami cengkeh tidak bisa tumbuh, selalu saja mati," pungkasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya