Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Wantimpres: Tantangan calon pendidik kelola medsos wujudkan perdamaian

Wantimpres: Tantangan calon pendidik kelola medsos wujudkan perdamaian Agum Gumelar. ©2018 Istimewa

Merdeka.com - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar menilai dunia pendidikan merupakan wadah strategis untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui pengenalan narasi-narasi Islam yang sejuk kepada para calon pendidik.

Pandangan ini dikemukakan Agum saat menjadi keynote speaker diskusi bertema IQRA’: Islam, Ilmu dan Perdamaian yang merupakan inisiasi Pokja Toleransı bersama Alıansı Kebhınekaan, dan Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) UNJ di gedung FISIP UNJ, Jakarta.

Agum mencontohkan, maraknya informasi hoaks di media sosial yang isinya ujaran kebencian terhadap pihak tertentu berpotensi menciptakan intoleransi. Menurut Agum, media sosial yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemaslahatan, justru sebaliknya, dipakai sebagai alat propaganda politik demi menjatuhkan individu atau kelompok lain.

"Sekali lagi, ini tantangan calon pendidik bagaimana mengelola media sosial untuk mewujudkan kebaikan dan perdamaian demi menjaga toleransi antar kelompok masyarakat," kata Agum dalam keterangan tertulis, Minggu (1/4).

Agum mengatakan, narasi perdamaian berasal dari prinsip Islam yang mengandung nilai-nilai perdamaian. Banyak kosakata dalam Al-Quran yang menyinggung tentang perdamaian, misalnya pemilihan kata kebaikan, perdamaian, dan keamanan. Selain itu, di dalam tradisi Islam klasik, yakni sejarah nabi, sahabat, dan para tabi’in yang dijadikan teladan dalam berperilaku damai.

"Sebagai calon pendidik, kalian harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai perdamaian yang ada dalam Al Qur’an, serta mampu menauladani Nabi Muhammad SAW sebagai juru damai di bumi," ujarnya.

Sementara itu, Dosen Pendidikan Agama Islam UNJ Andy Hadiyanto mengatakan, pendidik menjadi agen penting untuk mulai membangun sikap damai dan toleran para siswa dalam menerima perbedaan yang ada. Oleh sebab itu, penting untuk membangun karakter pendidik yang toleran.

"Di sinilah keutamaan ilmu dan pentingnya pendidikan dalam membangun masyarakat yang damai dan berkemajuan bagi calon pendidik sebagai agen toleransi yang menyebarkan nilai-nilai keislaman di lingkungan sekolah," katanya. (mdk/rzk)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP