Usai upacara Hardiknas, Balai Kota Malang digeruduk demonstran
Merdeka.com - Usai dipakai upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Alun-Alun Bundar Balai Kota Malang dipenuhi para demonstran. Empat massa aksi memenuhi balai kota yang bersebelahan dengan gedung DPRD itu.
Massa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar aksinya di titik pintu sebelah utara Gedung DPRD. Puluhan mahasiswa membawa aneka postes, dan menggelar aksi teatrikal dengan membawa keranda jenazah warna hitam, bertuliskan Jenazah Pendidikan Indonesia.
Pintu yang sama juga menjadi titik konsentrasi massa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aneka spanduk tuntutan dibeber berikut bendera kebesaran. Namun tidak berselang lama, massa berpindah bergeser, lebih ke selatan dari pintu utara.
Massa KAMMI menuntut Jaminan Pendidikan Tinggi Nasional (Jamdiktinas) untuk seluruh anak Indonesia. Mereka juga menuntut Pemerintah Kota Malang untuk memberikan alokasi minimal 20 persen APBD untuk pendidikan.
Sementara itu, massa dengan jumlah lebih banyak terlihat dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Indonesia regional Malang yang memasuki pintu selatan Gedung DPRD. Ratusan massa tersebut menggelar treatrikal tentang kondisi pendidikan dan guru di Indonesia. Sebuah keranda dengan 'mayat' putih diusung sebagai tanda matinya negara dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Massa dengan jumlah yang hampir sama menggelar aksi di pintu masuk Balai Kota Malang. Massa dengan pengeras suara berhadapan dengan massa BEM itu menyampaikan tuntutan yang berbeda.
Baik massa GMNI maupun KAMMI menggelar aksinya hanya mengenakan megaphone. Berbeda dengan dua aksi lainnya dengan pengeras suara dari atas mobil pikap.
Jika tiga aksi yang lain menuntut perbaikan seputar pendidikan, aksi gabungan AJI, SPBI, SMART, IMM FPP, HMI mengangkat isu perburuhan. Massa menuntut pencabutan Peraturan Pemerintan Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, serta menuntut kasus kriminalisasi aktivis buruh.
Massa sempat terlibat aksi dorong dan pukul dengan pihak keamanan. Namun kemudian dapat ditenangkan, setelah Wakil Wali Kota Malang Sutiaji menemui massa aksi.
Sutiaji sempat terbawa emosi, karena di antara demonstran menanggapi orasinya dengan clometan.
"Kami setuju dengan tuntutan Anda, tetapi kalau Anda tidak percaya kenapa ke sini. Saya juga pernah menjadi aktivis, dan pernah berdemo seperti Anda," katanya.
Setelah membacakan tuntutan, Sutiadji hendak menandatangai form yang disediakan. Namun di antara pendemo kembali menimpali, 'Jangan asal tanda tangan'.
Mendengar clometan itu, Sutiaji kembali naik pitam. Dirinya mengancam tidak akan tanda tangan kalau tidak menghormati dirinya.
"Saya siap meninggalkan tempat, jika memang tidak menghormati kami," tegasnya. Sutiaji pun selanjutnya membubuhkan tanda tangganya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya