Usai gerhana, cuaca di Palembang terasa lebih gerah dan menyengat
Merdeka.com - Pasca fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) 9 Maret 2016 lalu, cuaca di Palembang terasa lebih gerah dan menyengat. Kondisi tersebut dirasakan warga baik siang maupun malam hari.
Warga mengira cuaca tersebut ada pengaruhnya dengan GMT yang beberapa hari lalu terjadi. Sebab, sebelum GMT, cuaca terbilang normal meski terik matahari di siang hari terjadi.
"Ini kayaknya habis gerhana kemarin. Siang menyengat, malam gerah. Kemarin-kemarin tidak seperti ini," ungkap Samsudin (55), warga Sekip Jaya, Kemuning, Palembang, Jumat (11/3).
Hal yang sama diungkapkan Rehaili (37), warga Kamboja Palembang. Dia khawatir cuaca tersebut akan berpengaruh terhadap kesehatan warga.
"Panasnya luar biasa, padahal masih ada hujan. Kalau pun hujan tetap saja panas. Takutnya bisa sakit," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kasi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kenten Palembang, Indra Purna mengatakan, cuaca yang gerah dan menyengat tersebut bukan disebabkan karena GMT. Hal itu disebabkan posisi matahari yang berada di tengah garis khatulistiwa yang menuju arah selatan sehingga energi yang dipantulkan ke bumi lebih besar dari biasanya.
"Bukan karena GMT, sejauh ini tidak ada pengaruhnya. Itu karena posisi matahari di tengah khatulistiwa. Itu lumrah," ujarnya.
Menurut dia, energi yang dipantulkan itulah membuat suhu udara di Palembang dan beberapa daerah lain di Sumsel terasa lebih menyengat. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga April mendatang.
"Sekarang cuacanya tidak ektrim, masih 34 derajat celsius. Tapi memang lebih gerah dan menyengat baik siang maupun malam," tukasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya