Tuli karena kebisingan mesin Bajaj tidak bisa diobati
Merdeka.com - Ada harga mahal yang harus dibayar pengemudi Bajaj. Seiring lamanya mereka mengemudi Bajaj berbahan bakar bensin maka semakin parah juga gangguan pendengaran yang mereka alami.
Temuan ini diperoleh dari seorang profesor sekaligus dokter THT dari Universitas Indonesia Jenny Bashiruddin.
"Kita melakukan pengujian terhadap 350 pengemudi bajaj tiap Bajaj diukur frekuensinya. Ternyata pajanan bising mencapai 91 desibel yang paling tinggi 115 desibel. Saat kita cek pendengaran di ruang kedap, ternyata nemu ada gangguan pendengaran dan keseimbangan," kata Jenny kepada merdeka.com, Jumat (5/6).
Gangguan pendengaran dan keseimbangan pada para sopir Bajaj pun bervariasi. Faktor-faktor seperti umur, lama kerja dan juga intensitas kebisingan menjadi faktor penentu.
"Rata-rata 5 tahun (terganggu pendengaran). Ada juga satu tahun baru kerja tapi dapat Bajaj yang bisingnya banyak," ucap dokter RSCM ini.
Yang memprihatinkan ternyata gangguan pendengaran pada tukang Bajaj ini tidak bisa diobati. Pasalnya kebisingan tersebut merusak bagian dalam telinga.
"Jenisnya adalah gangguan sensoreniural, bukan di luar atau tengah tapi rusak di kokleanya atau di rumah siputnya. Yang rusak sel-sel rambut luarnya kalau itu susah diperbaikinya. Kalau rusak di tengah dan luar telinga bisa dibenerin," terang Jenny.
Tak ada jalan keluar bagi para sopir Bajaj. Pilihan terbaik tinggal mengoptimalkan pencegahan untuk pengemudi Bajaj.
"Pakai alat pelindung pendengarannya pakai earplug, helm itu mengurangi dampaknya. Kemudian pajanannya jangan 8 jam kerja kalau sekian desimbel itu dia istirahat dulu jangan langsung terus-terusan," tutupnya. (mdk/has)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya