Tri Mumpuni dan perjuangan hadirkan listrik di pelosok daerah
Merdeka.com - Terdapat 2.500 desa di Indonesia yang belum mendapatkan listrik. Desa tersebut kebanyakan berasal dari Indonesia Timur. Atas dasar inilah Tri Mumpuni (51) tergugah hatinya.
Tri langsung bergerak ke Pulau Sumba untuk memberikan secercah harapan untuk atasi krisis listrik. Dia pun mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan di pulau tersebut.
Perempuan yang dijuluki 'wanita listrik' ini menilai, program kelistrikan di pelosok daerah hanya bisa dilakukan dengan melibatkan warga dan sumber daya alam setempat. Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), Tri mengembangkan sumber energi listrik berbasis angin dengan kapasitas sesuai yang dibutuhkan warga.
"Di Pulau Sumba kita bikin PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) 500 Watt, memang rakyat perlunya segitu, tidak perlu sampai 1 megawatt," ujar Tri di Graha PPI, Jakarta, Kamis (21/4).
Agar proses pembangunan PLTB berjalan lancar, Tri mengatakan perlu pendekatan personal kepada warga setempat. Dia menilai, kualitas pendidikan warga setempat menjadi faktor pentingnya pendekatan personal. Kemudian, Tri pun merangkul warga agar tujuan pembangunan PLTB tercapai secara mulus.
"Kita sering datang merasa paling tahu rakyat maunya apa. Tidak hanya engineering tapi juga pendekatan antropologi, sosiologi. Kita harus meyakinkan masyarakat. Ini mengapa saya ngotot mau ada Patriot Energi, mengirim anak muda tinggal setahun bersama mereka," jelas Tri.
Di samping itu, Patriot Energi pun perlu merangkul semua warga dengan berbagai latar pendidikan. Perlu kemampuan khusus untuk bisa mengkomunikasikan pembangunan PLTB kepada masyarakat dengan latar belakang pendidikan relatif rendah. Sebab, sulit mencari lulusan universitas di desa-desa terpencil.
Tri mencontohkan, tukang ojek yang kini berkemampuan menjadi teknisi pembangkit listrik dari EBT. Menurut dia, tukang ojek bisa merawat motor sendiri. Dengan demikian, tidak sulit baginya memahami bahasa teknik. Dari situ lah, dia menilai, kemampuan masyarakat daerah tidak bisa diukur dari latar belakang pendidikan saja.
"Kalau kita ke hutan yang terpencil, nyari sarjana tidak mungkin. Ternyata tukang-tukang ojek diajari sedikit bisa mengoperasikan (pembangkit listrik) mikro hidro," tutur Tri.
Selain memanfaatkan angin, sumber listrik lain juga bisa dimanfaatkan adalah kotoran sapi.
"100 kg kotoran sapi bisa menghasilkan listrik 10 kWh. Masak juga jadi gratis, tidak usah pakai fosil fuel (minyak tanah). Desa yang dulunya gelap gulita jadi terang," pungkas dia. (mdk/sau)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya