Tradisi para saudagar Aceh: Bekerja satu tahun, makan satu bulan
Merdeka.com - Mita Sithon, Pajoh Sibulen (bekerja satu tahun, makan satu bulan). Ini merupakan tradisi saudagar kaya di Aceh di masa kerajaan dulu. Sebuah tradisi saling berbagi saat datang bulan suci Ramadan.
Para saudagar kaya yang mayoritas Muslim masa itu memaknai Ramadan sebagai bulan rahmat untuk menambah pundi-pundi ibadah bekal akhirat. Karena bagi mereka sudah bekerja selama 11 bulan dan selama Ramadan menghentikan total aktivitas niaga.
Pada masa kerajaan dulu, terutama masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh yang terkenal dengan kemakmuran dan keadilan. Seluruh rakyat kala itu hidup berkecukupan. Karena semua saudagar kaya memiliki tradisi berbagi selama Ramadan.
Mereka berlomba-lomba bersedekah dan membantu fakir miskin selama bulan Ramadan. Selama Ramadan mereka juga fokus untuk beribadah. Ibadah yang sangat dikenal dengan Kaluet (Sulok) di pesantren-pesantren atau dalam gua yang sepi. Selama kaluet, mereka tidak beraktivitas apa pun, kecuali beribadat, berzikir hingga khatam Alquran.
Tradisi kaluet ini juga masih terjaga sampai sekarang. Akan tetapi bedanya, yang masuk kaluet itu lebih banyak santri yang sedang menimba ilmu di pesantren-pesantren salafi di Aceh.
"Nah kaluet ini tentu kalau tidak ada bekal disimpan untuk anak istri di rumah kan tidak mungkin, jadi saudagar kaya ini bekerja satu tahun untuk makan satu bulan," kata Tarmizi Abdul Hamid, seorang kolektor naskah kuno Aceh, Rabu (7/6).
Kendati demikian, bukan berarti selama 11 bulan saudagar kaya ini tidak beribadah. Akan tetapi selama bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah saudagar ini menghentikan aktivitas bisnis dan memfokuskan untuk beribadah.
Selain itu, kata Tarmizi Abdul Hamid yang akrab disapa Cek Midi, menjelang akhir Ramadan, umat Muslim di Aceh menghabiskan segalanya untuk menyambut hari kemenangan.
Seperti membeli baju baru untuk seluruh anggota keluarga, membersihkan pekarangan rumah hingga menggantikan cat rumah, menggantikan perabotan rumah. Termasuk memberikan zakat fitrah yang diwajibkan bagi umat Muslim.
"Inilah yang disebut habis-habisan akhir Ramadan untuk menyambut hari kemenangan," ungkapnya.
Bukti kemakmuran itu, kata Cek Midi, hampir di setiap rumah kala itu memiliki tempat penyimpanan padi yang besar. Jadi selama 11 bulan bekerja lalu hasilnya disimpan untuk dihabiskan selama bulan Ramadan.
"Inilah simbul kemakmuran rakyat Aceh tempo dulu," ungkapnya.
Lanjutnya, termasuk selama bulan Ramadan menyantuni anak yatim, khatam Alquran berkali-kali, berbagi pada fakir miskin, sehingga saat Idul Fitri tiba semua bisa menikmati hari kemenangan itu. (mdk/cob)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya