Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ogah dipulangkan, imigran Afghanistan ancam bunuh keluarganya

Ogah dipulangkan, imigran Afghanistan ancam bunuh keluarganya Ilustrasi Imigran Gelap. ©2015 Merdeka.com/Angeline Agustine

Merdeka.com - Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kepulauan Riau mengeluhkan banyaknya imigran yang datang ke wilayah Riau. Keluhan tersebut disampaikan Kepala Imigrasi Kanwil Kepri Sutrisno dalam teleconference dengan Menkum HAM Yasonna H Laoly.

Setidaknya Kanwil Kepri mencatat ada 1.052 imigran ilegal yang telah ditempatkan di 8 rumah detensi imigran (rudenim). Sutrisno meminta pemerintah pusat bisa memberikan solusi terhadap payung hukum yang jelas dalam menangani kasus tersebut.

"Keberanian dari kita untuk menolak upaya lain agar mereka tidak masuk ke tempat kita," kata Sutrisno lewat teleconference, Selasa (12/7).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Kepala Kanwil Kemenkum HAM Sulawesi Utara, Sudirman Hury. Dia mengatakan imigran dari Afganistan enggan meninggalkan rudenim. Bahkan dia mengancam akan membunuh anggota keluarganya jika dipaksa keluar dari rudenim.

"Ada keluarga dari Afganistan yang tak mau dipindah dari rudenim. Dia mengancam akan membunuh anggota keluarganya jika dipaksa keluar dari rudenim," ujar Sudirman dalam sambungan teleconference.

Menanggapi keluhan tersebut, Menteri Yasonna mengakui penanganan imigran belum tersentuh payung hukum yang jelas. Dia pernah berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan imigran gelap memiliki aturan yang jelas, sebab imigrasi tak bisa menolak kehadiran mereka karena akan mengundang protes internasional.

"Saya sudah pernah lihat yang di Riau, kita menangani banyak persoalan imigran gelap. Nanti tolong dikoordinasikan dengan Kemenlu, BIN, BNPT dan pihak yang terkait untuk menangani kasus ini," kata Yasonna.

Yassona mengakui UNHCR dan AOM sebagai lembaga yang menangani imigran di Indonesia terlalu dimanjakan. Alhasil, imigran yang datang ke Indonesia tidak melulu alasan politik negara, melainkan alasan ekonomi juga.

Untuk itu, Yasonna meminta imigrasi Kepri melakukan koordinasi intens dengan AOM. Tak hanya itu, dia juga memerintahkan agar sistem penanganan bandara diperketat. Kalau perlu ada penambahan petugas imigrasi untuk menghindari masuknya imigran ke Indonesia.

"Koordinasi AOM harus ditingkatkan. Kerja sama dengan bandara untuk transit tempat mereka mencari tempat juga harus dilakukan," tambah Yasonna.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP