Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

TK tak punya WC, anak-anak murid sering buang air di kelas

TK tak punya WC, anak-anak murid sering buang air di kelas Suhana, guru TK dapat Beasiswa S1. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Indonesia masih punya banyak kisah yang memprihatinkan soal pendidikan. Mulai dari kurangnya tenaga guru sampai fasilitas yang tidak memadai untuk sarana mengajar.

Cerita memprihatinkan itu salah satunya datang dari TK Lampisi, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Betapa tidak, TK yang berada di pelosok Jambi bertahan di tengah keadaan yang serba kekurangan tenaga pengajar dan fasilitas layak.

"TK ini satu kelas 50 anak di satu ruang kelas. Sedangkan guru cuma ada tiga. Mereka duduk dimana saja karena bangkunya cuma ada 30 bangku," ujar Suhana, guru TK Lampisi di acara penerimaan beasiswa S1 Hotel Shang Ratu, Jambi (27/6).

Kendala tak berhenti di situ, meski telah berdiri bertahun-tahun rupanya TK ini masih tidak mempunyai toilet. Tentu saja, akibatnya guru-guru dibuat repot oleh kelakuan anak-anak yang ingin buang air.

"Ada yang sampai buang air di kelas. Kalau enggak mereka lari ke rumah. Kalau rumahnya jauh saya antar mereka numpang buang air di kantor desa," lanjut Suhana sedih.

Guru yang telah mengabdi sejak tahun 1994 itu, sebenarnya telah bersuara agar kondisi TK-nya bisa lebih baik. Sebenarnya keluhan Suhana telah didengar namun masalah baru malah muncul di sekolahnya.

"Saya bingung kenapa setelah direnovasi TK Lampisi jadi beton kok malah jadi kecil. Padahal kami dulu buat kelas itu dua kelas. Tapi sekarang jadi satu kelas. Padahal dulu luas tanah kami 600m" kata Suhana lagi.

Apapun yang terjadi di tempat dia mendidik, Suhana tidak pernah mau mundur dari dunia pendidikan yang telah dibangunnya. Baginya dunia anak-anak taman kanak-kanak adalah bagian dari dunianya.

"Sudah berapa kali guru-guru berganti-ganti tapi saya enggak. Saya enggak mau," tegas Suhana.

Beruntung dedikasi dan totalitasnya sebagai guru TK diapresiasi sejumlah pihak, salah satunya Tanoto Foundation. Kini Suhana yang telah memasuki usia 54 tahun kembali diberi harapan untuk menggapai mimpinya meraih gelar sarjana. Dengan jalan ini Suhana ingin menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya. (mdk/war)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP