Tinggal di gubuk reyot, pedagang canang idap pembengkakan ginjal
Merdeka.com - Tinggal di rumah reyot, terbuat dari bilik bambu yang sudah koyak dan berlantai tanah yang becek karena hujan akibat atap genting gubuknya yang bocor, Ni Wayan Jendri (49) hanya bisa terbaring beralas kasur buntut sambil meringis menahan sakit.
Ibu empat anak penjual canang sari (bunga untuk sembahyang.) ini tinggal di Lingkungan Tinusan Kauh, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, Jembrana di Bali, sejak satu tahun lalu didiagnosa oleh dokter menderita sakit pembengkakan pada ginjalnya.
Praktis, Jendri sejak sakit tidak lagi menjual canang sari. Untuk makan sehari-hari keluarga ini hanya mengandalkan penghasilan Wayan Gejer (54), suaminya yang bekerja buruh serabutan. Kendati telah memiliki KIS, terkadang istrinya harus berobat alternatif karena tidak kuat menahan sakit.

"Kalau penyakitnya kambuh, saya kebingungan. Mau berobat alternatif tidak ada biaya. Jangankan untuk biaya berobat alternatif, untuk makan sehari-hari juga susah," tutur Gejer lirih di samping istrinya yang terbaring lemas.
Jika dibawa ke rumah sakit, Gejer mengaku tidak memiliki biaya perjalanan. Padahal dari pemeriksaan dokter RSUD Negara, istrinya diharuskan untuk menjalani operasi jika ingin sembuh dari penyakitnya. Bahkan istrinya dari RSUD Negara sudah dirujuk ke RSUD Tabanan untuk operasi.
"Kami sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit Tabanan, itu biayanya tidak sedikit. Tapi itu biaya perjalanan kalau biaya berobat di rumah sakit ngak bayar," ungkap Gejer.

Dari pemeriksaan di RSUD Tabanan menurut Gejer, istrinya telah mendapat jadwal operasi. Sayangnya jadwal tersebut harus menunggu dua sampai tiga bulan lagi.
"Saya tidak mengerti kenapa jadwal operasinya masih sangat lama, mungkin karena kami pakai kartu jaminan kesehatan dari pemerintah atau gimana. Saya khawatir ada apa-apa dengan istri di rumah," keluh Gejer
Kekhawatiran Gejer terbukti, dua hari sepulang dari RSUD Tabanan, istrinya kambuh dan dilarikan ke RSUD Negara. Istrinya sempat diopname selama lima hari dan dua hari lalu baru diizinkan pulang.
Sekarang Gejer mengaku bingung memikirkan keadaan istrinya karena jadwal operasinya masih lama. Juga kebingungan memikirkan rumahnya yang nyaris roboh serta biaya sekolah anaknya yang paling kecil.
"Anak saya empat orang, yang tertua laki-laki sudah tamat SMA tapi masih nganggur. Sedangkan anak ke dua perempuan sudah menikah dan anak ketiga perempuan baru saja tamat SMA, belum dapat kerjaan. Hanya anak yang keempat laki-laki masih kelas satu SMP," kata Gejer yang mengaku tiap bulan dapat bantuan raskin dari pemerintah dan tinggal menumpang di tanah orang lain. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya