Tim Gabungan Teliti Potensi Bahaya usai Longsor di Terowongan Karangkates II
Merdeka.com - Tim gabungan diterjunkan untuk mengevaluasi dampak risiko dari longsoran yang terjadi di terowongan Karangkates II Malang. Mereka bertugas mencari penyebab longsoran, sekaligus mengidentifikasi kemungkinan risiko dan timbulnya bahaya lain.
"Pagi ini melakukan evaluasi terhadap penyebab dari longsoran tersebut, sekaligus mengidentifikasi risiko yang akan terjadi," kata Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Malang Raymond Valiant, Rabu (19/10).
Tim berasal dari Perum Jasa Tirta I Malang dan PT KAI DAOP 8 Surabaya. Mereka terdiri dari para ahli geologi dan tenaga teknis sipil yang akan melihat secara fisik di lokasi longsoran.
Raymond menjelaskan hujan deras dua hari terakhir di Malang bagian selatan berdampak banjir dan longsor. Salah satu titik longsor terjadi di mulut terowongan Karangkates II. Sebagian mulut terowongan tertutup limpasan tanah dan tanaman, hingga membuat akses kereta api tidak dapat dilalui.
"Lokasinya di dekat titik keluar masuk dari terowongan KA di Karangkates II telah terjadi limpasan, yang kemudian membawa tanah dan tanaman menutup sebagian mulut terowongan. Sebagian dari pintu terowongan Karangkates II itu tertutup tanah dan tanaman yang turun bersama limpasan air," jelasnya.
Terdapat dua terowongan di sekitar Bendungan Karangkates atau Bendungan Sutami. Terowongan Karangkates I memiliki panjang 850 meter menyambung ke Karangkates II dengan panjang 600 Meter. Terowongan tersebut merupakan relokasi dari jalur kereta api yang dulunya melewati tengah bendungan.
Pengelolaan jalur kereta api dan terowongan berada di bawah otoritas PT KAI DAOP 8 Surabaya, sementara Bendungan Karangkates di bawah Perum Jasa Tirta I Malang.
PT KAI telah melakukan evaluasi terhadap keamanan dari jalur KA yang melewati jalur tersebut. Saat ini kondisi lokasi sudah dapat dilalui oleh kereta meski dengan perlakukan khusus.
"Hari ini KA yang melalui terowongan Karangkates I dan Karangkates II sudah kembali dibuka. Pengoperasian KA-nya sedang dievaluasi oleh PT KAI DAOP 8 Surabaya," bebernya.
Perum Jasa Tirta I Malang selanjutnya akan membuat rumusan hasil kerja guna disampaikan ke Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Laporan tersebut berupa rekomendasi langkah yang dianggap perlu, termasuk kemungkinan rehabilitasi.
"Harapannya 2X24 Jam sudah bisa membuat laporan, apakah longsoran tersebut memiliki risiko yang dapat membahayakan, misalnya daerah sekitar terowongan," ungkapnya.
Tim infrastruktur sekarang ini sedang berada di lapangan, sehingga muncul kemungkinan PT KAI akan mengambil keputusan dengan pembuatan bronjong atau penguatan yang lain.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya