Tidak laku, perangko hanya akan jadi abu
Merdeka.com - Di era teknologi yang sudah semakin pesat, kegiatan kirim mengirim surat memang sudah tidak zamannya lagi. Hal ini berdampak semakin nahasnya nasib perangko yang dikeluarkan PT Pos indonesia. Hampir sebagian besar perangko di Indonesia musnah dibakar akibat tidak laku.
"Perangko yang kita keluarkan ada lima tahun masa laku sejak tahun diterbitkan dan tiga tahun masa jual. Kalau sudah lima tahun, bersama Kominfo akan dibakar melalui berita acara," ujar Direktur Utama Ritel dan Properti PT Pos Indonesia, Setyo Riyanto, dalam siaran persnya kepada wartawan, di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (13/6).
Namun hal ini menjadi satu berkah tersendiri bagi para filateli atau mereka yang gemar mengoleksi perangko. Semakin sedikit perangko yang beredar, maka harga perangko tersebut akan berlipat-lipat dalam beberapa tahun ke depan, dan kelangkaan inilah yang membuat perangko Indonesia terkenal mahal.
Menurut Setyo, rupanya bukan filateli asal Indonesia saja yang memborong terhadap perangko Indonesia. Justru para filateli asal luar negerilah yang jeli mengamati fenomena perangko di Indonesia.
"Perangko Indonesia menyentuh harga ratusan juta yang langka, hal itu karena banyak yang dibakar, dan semakin sedikitnya perangko, maka artinya luar biasa. Perangko ini jadi sasaran filateli luar negeri seperti perangko Naga Air, sekarang kalaupun ada carinya juga di Singapura, harganya tujuh sampai delapan kali lebih mahal, karena kita mencetak sangat sedikit," kata dia.
Selain itu, ada pula perangko yang ditaksir dengan harga 20 milyar. Meski perangko tersebut dikeluarkan di Indonesia, nyatanya sang pemilik perangko Hindia Belanda itu adalah warga Singapura. Tidak heran Ketua Perhimpunan Filateli Indonesia, R. Soeyono, angkat bicara agar perangko tersebut dapat kembali ke tanah air.
"Perangko Rp 20 milyar adalah perangko Hindia Belanda dalam ukuran 8x8, dalam bentuk lembar dan ada stempel pos ngawi tahun 1864. Semula orang Indonesia yang punya sekarang orang Singapura, itu satu-satunya perangko Hindia Belanda tahun 64, semoga ada yang beli jadi kembali ke indonesia," jelasnya.
Dari penuturan tersebut memang mengenaskan mengetahui perangko-perangko tersebut bukan ada di rumahnya, tapi justru di tangan orang lain. Sekarang pilihannya hanya diam membiarkan harta Indonesia terampas satu persatu, atau bergerak menghidupkan kembali arti perangko yang bukan hanya gambar semata tapi juga merupakan identitas negara. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya