Tiba di rumah duka, jasad Parada disambut tangis
Merdeka.com - Jenazah Parada Toga Siahaan, pegawai kantor pajak yang dibunuh di Gunung Sitoli, Sumatera Utara, tiba di rumah duka di Jalan Air Bersih Ujung, Kompleks Pertamina Blok III, Medan, Rabu (13/4). Kedatangan peti mati berisi jasad Parada disambut isak tangis keluarga dan kerabat.
Jenazah Parada dibawa menggunakan ambulans dari Bandara Kualanamu, Deli Serdang. Sebelumnya, jasad Parada diterbangkan dari Gunung Sitoli.
Begitu tiba, peti mati diselimuti bendera merah putih dan digotong rekan-rekan Parada, sesama juru sita kantor pajak. Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga.
"Kami sangat kehilangan salah satu karyawan terbaik. Kami turut berduka cita. Semoga keluarga tabah," kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara II Pematang Siantar, Yunirwansyah, saat menyerahkan jenazah Parada ke pihak keluarga.

Setelah diserahkan, jenazah langsung dibawa ke dalam rumah. Keluarga menangis histeris di sana. Sementara itu, ratusan anggota keluarga, kerabat serta rekan Parada terus berdatangan ke rumah duka.
Istri Parada, Qorry Grace Lubis, tampak tak henti-henti menangis. Begitu juga ayah dan ibu petugas pajak itu.

Seusai menyerahkan jenazah Parada, Yunirwansyah memberikan keterangan kepada wartawan. "Kejadian ini menyakitkan dan melukai institusi kita," katanya sambil menangis.
Ditanya tentang pengawalan terhadap Parada, Yunirwansyah mengatakan, prosedur yang mereka lakukan sudah sesuai peraturan. Menurut dia, saat kejadian Parada hanya menyampaikan surat paksa, sehingga tidak diperlukan pengawalan atau pendampingan pihak ketiga. Pengawalan dari kepolisian baru diperlukan saat penyitaan.
Yunirwansyah berharap kejadian serupa jangan terulang lagi. "Saya juga berpesan bahwa pekerjaan petugas pajak bukan tugas yang ringan," ujar Yunirwansyah.
Parada merupakan juru sita Penagihan Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sibolga, terbunuh bersama Sozanolo Lase, tenaga honorer KP2KP Gunung Sitoli. Mereka dihabisi wajib pajak, Agusman Lahagu alias Ama Tety (45), di sekitar kediamannya di Jalan Yos Sudarso Desa Hilihao Km 5, Gunung Sitoli, Kota Gunung Sitoli, Selasa (12/4) siang.
Kasus pembunuhan ini masih diselidiki polisi. Dugaan sementara, pelaku yang merupakan pengusaha jual beli karet ini kalap mendengar pajak harus dibayarnya mencapai Rp 14,7 miliar.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya