Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Testimoni pelanggan Dolly: Nasib PSK sangat miris

Testimoni pelanggan Dolly: Nasib PSK sangat miris Gang Dolly. ©2013 Merdeka.com/Moch Andriansyah

Merdeka.com - Tanggal 19 Juni atau 10 hari sebelum belum puasa tahun 2014 ini, lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, Gang Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, dipastikan akan rata dengan tanah.

Di sini, di Gang Dolly, di antara dengus napas anak-cucu Adam, lahir banyak kisah menarik, baik cerita soal ratusan pekerja seks komersial (PSK) yang tersebar di puluhan wisma, maupun pelanggan setia-nya.

Namun, sebentar lagi, kenangan-kenangan manis di balik legenda kokohnya etalase cinta yang didirikan Noni Belanda, Tante Dolly di masa kolonial itu, akan segera terkubur bersama runtuhnya bangunan prostitusi yang berada di jantung Kota Pahlawan tersebut.

Ketegasan si 'Singa Betina,' Tri Rismaharini tak mampu dibendung siapa-pun yang menolak penutupan, termasuk Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana. Bagi wali kota perempuan pertama di Surabaya itu, penutupan Gang Dolly dan Jarak, tanggal 19 Juni nanti, adalah harga mati.

Namun, diakui atau tidak, dari penelusuran merdeka.com, ternyata ada banyak kisah menarik di Gang Dolly, mulai cerita miris penyaji paha-paha indah, hingga kisah penikmatnya.

Berikut testimoni salah satu pelanggan Gang Dolly sejak tahun 2000 hingga saat ini, MF (38), asal Gresik yang bekerja di Surabaya kepada merdeka.com, Selasa lalu (20/5).

"Sejak saya kali pertama ke Gang Dolly sekitar tahun 2000 lalu, awalnya biasa-biasa saja. Tak ada hal-hal menarik yang saya temui. Maklum, baru pertama 'nyelup' (memakai jasa PSK) di sana," ujar MF.

"Tapi setelah, jadi pelanggan setia dari beberapa PSK di beberapa wisma, seperti Wisma Dollywood, Barbara dan beberapa wisma lain, kadang sesekali ke Pitrat-nya, tapi yang kerap jadi langganan saya, Wisma Dollywood dan Barbara itu. Bahkan, mucikari maupun makelar di sana, sangat hafal wanita selera saya kalau melihat saya datang. Tuh ada cewek seleramu, kata mucikarinya," ujar MF.

Nah, saat itulah cerita-cerita miris mulai dia dengar. Ya hampir bisa dibilang para PSK yang jadi langganan MF itu curhat. Mungkin hal itu lantaran mereka sudah menganggap MF seperti pacarnya sendiri.

"Ada PSK, asal Solo, Jawa Tengah, yang jadi langganan baru saya. Dia ini, bukan PSK biasa. Ternyata, setelah saya dekat dan mencari tahu latar belakangnya, dia mempunyai banyak keahlian. Mulai dari pintar bikin roti, memasak berbagai menu makanan, sampai keahlian potong rambut, bahkan memiliki salon rambut di tempat asalnya," terangnya.

"Terus saya tanya, lah ngapain jadi PSK di Dolly? Dia bilang untuk cari modal. Setelah uang hasil menjual diri terkumpul, dia mengaku akan membesarkan salon rambut miliknya itu".

"Lalu ada lagi, PSK langganan saya di Dollywood. Dia ini janda asal Semarang, Jawa Tengah. Suatu ketika dia cerita ke saya, kalau dia menjadi PSK di Dolly karena butuh biaya hidup dan menafkahi orang tua dan bayinya. Dan setelah uangnya terkumpul, dia mengirimkannya ke Semarang," ujar MF.

Ketika lebaran terang MF, PSK tersebut pulang ke desa dan membelikan susu anaknya dari uang menjual tubuhnya. PSK itu pun mengaku terkejut saat meminumkan susu yang dibelinya untuk bayinya. Seketika itu, anaknya muntah-muntah usai meminum susu dari tangannya.

Dan sejak saat itu, dia tidak pernah mau membeli susu sendiri dengan uang hasil melayani pria hidung belang. Tapi memberikan uang itu ke ibunya untuk dibelikan susu. Karena jika yang membeli dan memberi susu nenek si bayi, anaknya tidak pernah muntah.

Di Dolly, untuk makan susah, lebih susah lagi kalau PSK membeli pakaian dan perhiasan. Dari cerita beberapa PSK yang berhasil MF pancing-pancing untuk cerita, ternyata mucikari di sana main curang.

Contohnya, dalam sebulan, si PSK A misalnya. Dia melayani 100 pria hidung belang, namun di catatan mucikari, ditulis hanya melayani 40 orang saja. Sementara dari 100 persen uang yang diterima per laki-laki yang dilayani, si PSK hanya menerima 40 persennya saja. Itupun dipotong 5 persen untuk makelar. Jadi total yang diterima hanya 35 persen per pria hidung belang.

"Miris sekali sebenarnya. Jadi tak heran banyak di antara mereka yang kabur dari wismanya. Bahkan ada yang kabur membawa lari uang mucikarinya dengan dalih pinjam untuk pulang kampung. Tapi dia tidak pernah kembali lagi," terang MF lagi.

Dari pengakuan beberapa PSK, lebih enak bekerja tempat pijat atau pitrat. Hasilnya lebih terasa.

"Saya punya kenalan, dulu dia langganan saya di Dolly. Tapi sekarang dia pindah wisma. Lama tak berhubungan, suatu hari, dia telepon saya. Dia bilang kalau sudah pindah di pitrat. Katanya hasilnya lebih banyak, bahkan sekarang dia sudah bisa beli dua ekor sapi di desanya".

Di pitrat itu ada tipnya sendiri, termasuk pijat plus-plus yang dilakukan berdasarkan negosiasi dan dilakukan di luar lokasi. Sementara si pemilik pitrat menghitung biaya tamu yang datang, bukan berapa yang dilayani siapa.

Melihat nasib miris para PSK, MF pun sangat setuju sekali Dolly ditutup. MF merasa kasihan kepada para PSK-nya. Lebih baik mereka mencari pekerjaan yang tidak merugikan dirinya sendiri. Hasil yang didapat harus sesuai dengan keringat yang ditumpahkan.

"Bekerja ikut mucikari, mereka (PSK) lebih banyak ditipu tanpa peduli, kalau uang itu untuk menghidupi keluarganya. Kalau soal bagaimana saya menyalurkan syahwat, saya bisa beralih ke pitrat," terangnya.

(mdk/hhw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP