Tertinggi Kasus Corona di Jatim, Warna Surabaya Menghitam
Merdeka.com - Tingginya angka penyebaran virus corona atau covid-19 di Jawa Timur membuat peta persebarannya makin memerah. Bahkan, Kota Surabaya yang dinilai paling tinggi angka pertumbuhannya, kini ditandai dengan warna hitam atau zona hitam.
Berdasarkan situs resmi Pemprov Jawa Timur, infocovid19.jatimprov.go.id, terhitung per Rabu 3 Juni ini, jumlah kasus positif corona mencapai 5.310 orang. Ada penambahan sekitar 194 orang.
Dalam peta yang di tampilkan terlihat, wilayah-wilayah dengan warna yang berbeda-beda. Mulai dari warna merah muda, merah tua, hingga hitam. Khusus untuk warna hitam ini, terlihat ada di wilayah Surabaya. Sementara seperti Sidoarjo dan Gresik yang masuk dalam kawasan Surabaya Raya berwarna merah tua.
"Kemudian ada yang tanya, itu (di peta) kok ada yang hitam. Itu bukan hitam tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 (kasus) sekian merah sekali, kalau angkanya dua ribu sekian (Surabaya) merah tua," ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Dari data tersebut terlihat jelas perbedaan warna antara Surabaya dengan daerah lain. Warna Surabaya cenderung menghitam. Sedangkan daerah yang mendapat warna merah tua antara lain Malang, Kota Malang, Tulungagung, Bojonegoro, Tuban. Daerah dengan warna merah antara lain Nganjuk, Kota dan Kabupaten Blitar, Banyuwangi, Sumenep.
Sementara itu, dengan data corona Jawa Timur per Rabu ini yang sudah mencapai lebih dari 5.000, otomatis menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi kedua dengan jumlah positif terbanyak. Jawa Timur berada di bawah DKI Jakarta yang mencatat 7.623 kasus positif Covid-19.
Penjelasan Gugus Tugas Covid-19

Tingginya angka penyebaran virus corona di Surabaya tak lepas dari masifnya upaya Pemkot Surabaya melakukan tracing dan pengambilan sampel di berbagai lingkungan masyarakat.
Hal ini diakui oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat, Letjen TNI Doni Monardo, saat berkunjung ke Surabaya bersama Menteri Kesehatan Letjen TNI (pur) Dr. dr Terawan Agus Putranto.
"Tentunya tak mudah untuk mendapatkan informasi daerah yang kawasannya banyak yang positif. Ini langkah yang strategis dan sangat cerdas," jelas Doni, Rabu (3/6).
Doni mengatakan, langkah mitigasi atau pencegahan harus dilakukan agar tidak semakin banyak yang terpapar Covid-19. Langkah sosialisasi yang massif ke masyarakat, juga perlu disampaikan.
"Selama kasus Covid-19 berada di tengah masyarakat, kita tak boleh lengah. Penerapan protokol kesehatan harga mati. Kalau kita abaikan, tak disiplin dan tak menggunakan masker, tak menjaga jarak dan tak rajin cuci tangan, tentu akan membahayakan. Apalagi bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta," imbuhnya.
Upaya Risma

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melakukan berbagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Ibu Kota Provinsi Jatim, salah satunya dengan menekankan tracing (pelacakan) dan pemetaan suatu wilayah secara masif.
Tri Rismaharini mengatakan ketika pihaknya pertama kali menerima data seseorang dinyatakan positif Covid-19, maka yang dilakukan saat itu adalah melakukan tracing.
"Jadi kami punya beberapa klaster yang ada di Surabaya. Kita tracing, siapa dia, ketemu di mana, kemudian siapa saja di situ," kata Risma, di Surabaya, Rabu (3/6).
Dari hasil tracing itu, lanjut dia, kemudian ditemukan orang dengan resiko (ODR). Dari dasar data tersebut, Pemkot Surabaya mendetailkan siapa saja atau keluarga yang ada di situ.
Ia mencontohkan dalam satu perusahaan setelah dilakukan test ditemukan 1 orang positif, maka satu orang itu langsung dilakukan tracing untuk seluruh keluarganya.
"Dan orang itu kita masukkan sebagai ODR," katanya.
Setelah itu, kata dia, dokter mendatangi rumahnya dan melakukan pemeriksaan. Jika kondisinya berat, maka dimasukkan ke rumah sakit. Namun, jika kondisinya tidak berat orang tersebut dibawa ke Hotel Asrama Haji untuk isolasi.
Namun demikian, dia mengaku ada beberapa yang tidak mau karena mereka menyatakan tidak positif dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah.
"Nah ketika melakukan isolasi mandiri di rumah itu, kami memberikan makan supaya mereka tidak keluar (rumah). Setiap hari kelurahan mengirim makan 3 kali sehari. Siangnya kita berikan telur dan jamu. Itu mereka isolasi mandiri. Kadang-kadang ada vitamin," ujarnya.
Selain itu, Risma menyatakan saat ini pihaknya terus gencar melakukan rapid test (tes cepat) massal dan swab di beberapa lokasi yang dinilai ada pandemi.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya