Terjadi Lonjakan Pasien, Beberapa RS di Yogyakarta Sempat Tutup Layanan IGD
Merdeka.com - Sejumlah rumah sakit di Yogyakarta mengalami gangguan pelayanan karena kewalahan melayani pasien. Karena kewalahan melayani pasien, pelayanan IGD di sejumlah rumah sakit pun terpaksa ditutup sementara.
Penutupan layanan IGD ini sempat ramai diunggah di media sosial. Beberapa rumah sakit yang menutup layanan IGD-nya adalah RS Panti Rapih Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Direktur RS Panti Rapih Triputro Nugroho mengatakan sejak 26 Juni lalu, IGD di Panti Rapih mengalami lonjakan pasien. Lonjakan jumlah pasien ini disebut melebihi kapasitas IGD dan ruang rawat inap.
Triputro menuturkan untuk memberikan layanan maksimal kepada pasien, pihaknya pun memutuskan untuk menutup sementara layanan IGD karena kapasitas pasien overload dan keterbatasan tenaga kesehatan.
"Tanggal 26 Juni kapasitas ruang rawat inap dan IGD sudah melebihi kapasitas dan crowded. Ada 12 hingga 13 pasien yang menumpuk di IGD. Kami ingin melayani pasien tetapi di sisi lain tenaga kesehatan kami terbatas," ujar Triputro dalam jumpa pers daring, Senin (28/6).
"Lalu kita lakukan pengaturan. Kita tidak menerima (pasien) sementara. Fokus pada pasien kami yang ada di IGD. Istilahnya buka tutup," sambung Triputro.
Triputro menuturkan jika layanan IGD kembali dibuka pada 27 Juni. Di 27 Juni ini IGD Panti Rapih kembali melayani pasien.
Sedangkan Kepala RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Muhammad Komarudin mengakui bahwa memang pihaknya menutup sementara layanan IGD. Hal ini karena ada tumpukan pasien Covid-19 di IGD dan belum bisa masuk ke ruang isolasi.
Komarudin menjabarkan bahwa selain itu adapula permasalahan tentang tenaga kesehatan. Komarudin menuturkan sedikitnya 20 tenaga kesehatan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta terpapar Covid-19.
Untuk mengatasi masalah ini, RS PKU Muhammadiyah pun melakukan sejumlah antisipasi. Di antaranya dengan menambah ruang rawat inap.
"Ruang vaksinasi Covid-19 kita pindah di luar rumah sakit. Ruang vaksinasi ini kita siapkan untuk UGD pasien Covid-19. Saya hitung ruangan ini cukup untuk 12 pasien, ini untuk antisipasi bila terjadi penumpukan," terang Komarudin.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya