Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Terinspirasi Pramoedya, Ginanjar ingin berkarya dengan kemampuannya

Terinspirasi Pramoedya, Ginanjar ingin berkarya dengan kemampuannya Ginanjar Rohmat. ©2015 merdeka.com

Merdeka.com - Ginanjar Rohmat, mahasiswa tunanetra bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Cita-cita tersebut terbesit dalam pikirannya setelah dia mengalami kebutaan akibat kecelakaan olahraga saat masih duduk di bangku SMA.

"Cita-cita saya dulunya ingin kerja kantoran. Tapi setelah tidak bisa melihat saya ingin menjadi guru," katanya pada merdeka.com saat ditemui di kosnya, Rabu (2/12) malam.

Dia mengaku terinspirasi dengan sosok Louis Braille yang berkarya menciptakan huruf braille untuk tunanetra.

"Saya baca biografinya jadi semangat untuk menjadi guru. Berkarya untuk difabel lainnya dengan kemampuan yang saya punya," ungkapnya.

Selain Braille dia juga mengagumi sosok Pramoedya Ananta Toer. Karya-karya Pramoedya membakar semangatnya untuk berkarya dan memperjuangkan hak-hak difabel.

"Terakhir saya baca Arok Dedes. Tapi sebelumnya sudah baca tetralogi pulau buru. Saya senang dengan karya Pram, membaca karyanya itu jadi pengen menjadi penulis juga seperti Pram," tambahnya.

Sayangnya, lanjut Ginanjar, tidak banyak buku-buku yang bisa diakses oleh para difabel, khususnya tunanetra. Padahal dengan membaca maka akan banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan.

"Kenapa tunanetra kemudian selalu jadi tukang pijat. Padahal banyak profesi lain yang bisa digeluti. Membaca buku itu membuka wawasan kita supaya tidak terjebak dalam lingkaran itu. Nasib difabel tidak akan berubah di masyarakat," tandasnya. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP