Terbitkan buku berisi puisi suami demi hidupi buah hati
Merdeka.com - Setelah ditinggalkan sang suami, Wiji Thukul, Sipon harus menghidupi kedua anaknya dengan berbagai cara. Wiji menjadi korban penculikan yang terjadi pada tahun 1998.
Sipon mengaku sempat membuat pakaian dan mengeluarkan buku yang di dalamnya berisi kumpulan puisi atau tulisan-tulisan dari Wiji Thukul sendiri. Langkah yang diambil Sipon selain agar tetap menghidupi kedua anaknya, juga agar perjuangan suaminya tidak hilang begitu saja.
"Setelah ditinggalkan saya harus menghidupi dua anak saya. Saya bikin pakaian supaya bisa dijual, buku karya beliau yang ada puisi atau kesaksian. Supaya perjuangan beliau tidak hilang," kata Sipon saat dihubungi merdeka.com, Kamis (17/4).
Sipon mengatakan, ia sangat berharap agar ada yang mendampingi pihak keluarga korban kasus penculikan yang terjadi pada tahun 1998 itu.
"Saya berharap ada pendamping untuk keluarga korban untuk telusuri di mana keberadaan orang-orang yang hilang pada tahun 98 itu. Apakah mereka masih hidup atau memang sudah mati," ujarnya.
Sipon mengaku hingga saat ini pihak keluarga belum mendapatkan titik kejelasan atau pun keadilan atas hilangnya Wiji Thukul. "Sampai sekarang tidak ada kejelasan. Harapan saya ada titik kejelasan di mana keberadaan suami saya," harapnya.
Dia menuturkan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sudah memberi pernyataan bahwa kasus penculikan sudah diberi status dihilangkan negara dengan penghilangan secara paksa pada tahun 1998.
"Komnas HAM ngomong dan beri status, beliau dihilangkan negara, korban penghilangan secara paksa pada tahun 1998. Itu diakui negara yang ditandatangani Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim," ungkapnya.
Namun Sipon tidak percaya begitu saja. Dia masih berharap, sang suami masih akan kembali menemuinya dan kedua anaknya.
Laporan Gaby Virginia
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya