Tawa penjaja cinta sepanjang rel kereta api
Merdeka.com - Suara orang mengaji terdengar sayup-sayup dari kejauhan di Jl Raya Bekasi. Sebagian orang mungkin sudah terlelap dengan mimpinya. Atau khusyuk beribadah di Bulan Suci ini.
Tapi di pinggir rel, di seberang Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur, gadis-gadis berpakaian mini berdiri di sisi jalan berbaris. Mencoba peruntungan mereka malam ini. Sabar menanti pria hidung belang yang menghampiri.
Siapa pun yang lewat, baik pengguna sepeda motor maupun kendaraan roda empat yang melaju secara perlahan pasti disapa oleh mereka dengan senyum dan lambaian tangan.
"Mau kemana bang, mau aku temenin gak," rayu seorang wanita belia berparas cantik saat dihampiri, Sabtu (28/7) lalu.
"Hai, pada mau kemana nih malem-malem gini mau dong diajak" ujar wanita yang mengaku bernama Riri.
Entah siapa nama sebenarnya. Sudah jadi rahasia umum mereka tak pernah menyebut nama asli.
"Mau ditemenin gak? Murah kok cuma Rp 250 ribu, nanti aku bawa ke tempat yang asyik," lanjut Riri sambil mengibaskan rambutnya yang panjang.
Riri yang masih berusia belasan tahun ini mengaku harus tetap bekerja di Bulan Ramadan. Banyak pengeluaran yang harus dipenuhi. Kalau tidak menjajakan diri, dapat uang dari mana lagi?
"Namanya juga cari duit. Mau gimana lagi bang, apalagi puasa gini pasti sepi. Belom lagi kalau ada razia, pokoknya omzet menurunlah" curhatnya.
Tapi jangan mudah tergoda. Banyak gadis yang ada di sepanjang jalan ini biasanya menipu para pria hidung belang dengan membawa mereka ke sebuah warung. Nantinya mereka yang terjerat akan dipaksa membeli berbagai makanan, minuman dan rokok dengan harga tinggi. Jika tidak mau membayar, maka urusan akan diselesaikan oleh preman di tempat tersebut.
Pemandangan serupa juga bisa disaksikan di kawasan Gunung Antang, Jatinegara, Jakarta Timur. Tidak berbeda jauh dengan Cipinang, di lokasi yang berada di pinggiran rel kereta api ini pun banyak terlihat wanita malam menjajakan cintanya. Beberapa wanita tampak berdiri di sepanjang rel kereta.
Mereka memakai busana serba minim dan berdiri di antara para pria atau duduk di dalam warung remang yang memadati kawasan tersebut. Sebatang rokok yang terselip di jemarinya seolah menjadi aksesoris pelengkap mereka malam itu.
"Hai, mau kemana bang," sapa seorang wanita yang sedang asyik mengisap rokok tersebut.
Ketika disambangi, wanita itu pun tanpa canggung langsung menawarkan diri. "Pada mau dipijit gak? Bayar uang tenda aja Rp 100 ribu, murah kok," ucapnya
Cerita klasik pun mengalir dari mulut wanita berusia 20 tahunan itu. Lagi-lagi urusan perut membuatnya terpaksa menjual diri di Bulan Ramadan.
"Biasalah masalah keungan, Saya kan juga punya keluarga di kampung. Paling tidak bisa bantu-bantu merekalah," jelas wanita berambut ikal tersebut.
"Apalagi ini puasa pendapatan pasti menurun. Kemaren saja tidak mangkal, katanya mau dirazia. Hari ini baru saja mulai mangkal," jelasnya.
Menjelang pukul 03.00 WIB, wanita itu minta pamit. Dia mengaku ingin makan sahur karena besoknya harus berpuasa.
"Pagi sahur, magrib buka, malamnya begituan deh," ujarnya sambil tertawa getir. Ironis. (mdk/ian)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya