Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tan Malaka: Dari dalam kubur suara saya akan lebih keras

Tan Malaka: Dari dalam kubur suara saya akan lebih keras tan malaka. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - "Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras dari pada di atas bumi."

Pernyataan itu diucapkan Tan Malaka kepada polisi rahasia Belanda, Viesbeen, saat diinterview di kantor polisi Hong Kong pada Desember 1932. Saat itu Tan Malaka tengah dalam penahanan polisi Hong Kong setelah tertangkap di Koowlon oleh dua orang polisi rahasia Inggris.

Namun pernyataan Tan Malaka itu justru menjadi bahan tertawaan Viesbeen. Jika ditelisik, pernyataan Tan Malaka itu ada benarnya.

Meski Tan telah wafat ditembak pasukan Letda Sukotjo pada 1949, pemikiran dan sejarah Tan Malaka hingga kini tetap hidup. Meski di era Orde Baru nama Tan Malaka seperti disingkirkan dari sejarah, pasca-reformasi, Tan Malaka kembali 'hidup' melalui pemikiran-pemikirannya.

Pemikiran-pemikiran Tan Malaka yang dibukukan ramai dijual di toko-toko buku. Para aktivis sejak dulu bahkan menjadikan pemikiran Tan Malaka sebagai sumber wajib yang harus diulas dan dipelajari.

Namun demikian, bukan berarti semua pihak menyukai Tan Malaka . Semasa hidupnya (1894-1949), pahlawan nasional itu kerap tak disukai. Tak hanya oleh negara imperialis, oleh bangsanya sendiri pun Tan Malaka kerap dimusuhi.

Sikap anti-komprominya kepada penjajah soal cita-cita kemerdekaan Indonesia secara 100 persen membuat Soekarno dkk tak sehaluan dengannya. Tan menolak dialog dengan penjajah jika kemerdekaan Indonesia belum diakui 100 persen, sementara Soekarno lebih memilih jalan dialog dan negosiasi dengan penjajah.

Kini, setelah puluhan tahun tiada, Tan Malaka tetap ada yang tidak menyukai. Paham komunis yang dianut menjadi alasan Tan Malaka ditolak. Maklum saja, komunis di Indonesia langsung diidentikan dengan PKI yang dituding memberontak dan membunuh para jenderal TNI AD pada 1965. Komunis di Indonesia juga kerap diidentikan sebagai atheis.

Jika dilihat dari fakta sejarah, Tan Malaka pernah menjadi ketua PKI pada 1921. Namun perbedaan haluan dan pemikiran justru membuat Tan Malaka justru pecah kongsi dan dimusuhi oleh para tokoh PKI lainnya. Musso bahkan pernah bersumpah untuk menggantung Tan Malaka . Tan Malaka lantas mendirikan Partai Rakyat Indonesia (Pari) pada 1927 di Bangkok dan pada 1948 mendirikan Partai Murba.

Beberapa waktu lalu, acara bedah buku dan diskusi Tan Malaka di sejumlah kota mendapat penolakan. Di Surabaya, penolakan dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI), sementara di Semarang ditolak Ormas Pemuda Pancasila (PP).

Di Semarang diskusi masih bisa berlangsung meski tempat penyelenggaraan yang awalnya direncanakan di luar kampus, harus dipindahkan ke Universitas Diponegoro pada Senin (17/2). Sementara, di Surabaya, diskusi batal digelar. Sebabnya, massa FPI menduduki depan lokasi yang akan dijadikan tempat diskusi yakni, C20 Library, Jalan Dr Cipto, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (7/2).

Meski Tan Malaka adalah pahlawan nasional, FPI tak peduli. Menurut FPI, gelar pahlawan bagi Tan Malaka adalah versi dari PKI. Padahal, gelar pahlawan nasional diberikan langsung oleh Presiden Soekarno pada 1963.

"Itu kan versinya PKI. Tan Malaka itu kan pahlawannya orang-orang PKI, Tan Malaka itu kan tokoh Marxis," kata Ketua Bagian Nahi Mungkar FPI Jawa Timur KH Dhofir di depan Gedung C20 Library.

Sikap FPI amat kontras dengan kelompok Islam di tahun 1946. Saat itu, Laskar Hisbullah dan Masyumi ramai-ramai pasang badan untuk Tan Malaka .

Seperti ditulis dalam buku 'Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid I' Karya Harry A Poeze, saat itu, kondisi kota Madiun begitu mencekam. Pesindo yang berada di bawah Amir Sjarifuddin dengan senjata lengkap menjaga akses keluar kota Madiun. Hal yang sama juga dilakukan Polisi Tentara (PT). Khawatir akan keselamatan Tan Malaka , salah seorang tokoh Masyumi, Wali Al-Fatah lantas mendatangi penguasa daerah alias Residen Madiun, Susanto Tirtoprojo.

Wali Al-Fatah mengadukan kondisi tersebut. Ia berjanji akan membawa Tan Malaka kepada Susanto jika keselamatan Tan dijamin.

Wali Al-Fatah lantas bertemu dengan Aboe Bakar Loebis dan Soebadio, orang yang mendapat mandat dari Mendagri Soedarsono dan Menhan Amir Sjarifuddin untuk menangkap Tan Malaka dan pengikutnya. Wali Al-Fatah lantas menanyakan alasan rencana penangkapan Tan Malaka .

Namun, tak ada jawaban jelas dari Loebis. Ia juga menanyakan apakah Tan Malaka akan dipertemukan dengan Soekarno, tapi Loebis mengaku tak menerima perintah itu. Wali Al-Fatah lantas menemui Tan Malaka dan menceritakan perjanjiannya dengan Residen Madiun, Susanto Tirtoprojo, yakni akan mempertemukan Tan Malaka dengan Soekarno untuk berunding.

"Di rumahnya Tn Susanto Tirtoprojo yang masa itu menjabat pangkat Residen di Madiun dan tadi paginya memperkenalkan diri sendiri kepada saya di alun-alun, maka wakil PT berkata kepada saya; tuan akan diantarkan ke Jogja dengan wujud hendak berunding dengan Presiden," kata Tan Malaka dalam biografi 'Dari Penjara ke Penjara.'

Wali Al-Fatah mengajukan kepada Soekarno agar keselamatan Tan Malaka dijamin. Namun, setibanya di Solo, Tan Malaka dan pengikutnya justru ditahan di sebuah rumah. Mereka tak dibawa untuk berunding dengan Soekarno. Oleh PT Solo mereka ditahan sesuai surat perintah penahanan dari Mendagri Soedarsono dan Menhan Amir Sjariefuddin. Sejumlah pemimpin Masyumi protes atas penahanan Tan Malaka dan pengikutnya.

Mohammad Saleh pimpinan Masyumi dan Laskar Rakyat Yogya, H Mukti dan Dr Sukiman, atas nama Masyumi beberapa kali mengunjungi Soekarno untuk menanyakan soal penahanan Tan Malaka . Mereka juga meminta Soekarno membebaskan Tan Malaka dan pengikutnya.

"Tapi teranglah sudah bahwa mereka tidak mendapatkan hasil dan jawaban yang memuaskan," kata Tan Malaka .

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP