Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tak takut preman, nenek di Solo bangga jadi anggota Linmas

Tak takut preman, nenek di Solo bangga jadi anggota Linmas Heri Iswanti. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Heri Iswanti, wanita kelahiran Solo, 24 Februari 1952 ini bukanlah wanita biasa. Meski usianya sudah 61 tahun, namun nenek dengan beberapa cucu ini mempunyai semangat yang luar biasa. Ibu 6 anak ini bangga menjadi anggota perlindungan masyarakat (Linmas) Kelurahan Sondakan, Laweyan Solo.

Bahkan saking cintanya dengan pekerjaan yang biasa dilakukan seorang pria ini, di masa Orde Baru, Heri Iswanti pernah mendapatkan penghargaan 'Kunthi Award'. Penghargaan lainnya adalah sebagai anggota Linmas wanita terbaik, dari Wali Kota Solo Jokowi, saat itu.

Heri Iswanti mulai menjadi Linmas sejak 1989. Warga RT 4 RW XI Sondakan ini bahkan menjadi salah satu pelopor Linmas perempuan di Kota Solo, yang dulu biasa disebut Hansip (Pertahanan Sipil). Meski seorang wanita, Heri Iswanti tidak diperlakukan istimewa saat perekrutan Linmas. Dia tetap menjalani pelatihan yang sama seperti Linmas lain yang didominasi para pria.

"Saya itu dulu suka memimpin pleton. Anggota saya dulu 33 Linmas wanita, tapi sekarang dipecah. Tak ada perbedaan dengan pria, kalau pria dihukum, kita yang wanita juga harus dihukum. Jangan dibeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan," ujar Heri, saat ditemui merdeka.com, Jumat (20/12).

Menjadi seorang anggota Linmas, menjadi kebanggaan tersendiri buat Heri. Baginya, bisa bermanfaat bagi masyarakat merupakan kepuasan tersendiri. Meski tak jarang banyak tantangan yang harus dihadapi di lapangan. Beruntung keluarganya selalu memberi dukungan.

"Kita sering dipisuh-pisuhi (dikata-katain kotor) sama warga. Apalagi kalau ada tidak KDRT, orang-orang mabuk dan lain-lain. Sering kita dibentak sama preman, diancam mau dibunuh, disepelekan. Tapi semua itu kita hadapi dengan senyum dan sabar. Kita sudah terbiasa menghadapi hal seperti itu. Kalau sudah angel-angelan (susah diatur), ya kita laporkan ke polisi," paparnya.

Menghadapi preman saat berpatroli ke kampung-kampung bagi Heri dan Linmas putri lainnya sudah menjadi hal yang biasa. Heri mengaku tak mempunyai keahlian khusus, apalagi seni beladiri.

"Jadi Linmas, berpatroli sana sini, itu saya anggap ibadah. Yang penting ikhlas saja, pasti Tuhan akan melindungi kita. Untuk menjaga stamina, saya rajin berolahraga senam," jelasnya.

Meski menjadi anggota Linmas, Heri mengaku tak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Bersama suaminya yang seorang sopir, Heri berhasil menyekolahkan 6 anaknya. Sebelum berangkat bekerja, Heri memastikan sudah tersedia masakan untuk keluarga," katanya.

"Anak saya setengah lusin. Yang sarjana ada 3, yang lainnya lulusan SMA. Mereka sudah pada mentas (berkeluarga), ada 3 yang sudah menikah. Meski gaji saya sedikit, tapi cukup untuk anak-anak saya," ucapnya.

Selain Heri Iswanti, ada 14 anggota Linmas wanita di Kelurahan Sondakan. Setiap hari mereka bertugas patroli, berkeliling kampung dengan sepeda angin. Mereka dibagi dalam 3 shift, yakni jam 07.00 hingga jam 15.00 WIB, pukul 15.00 WIB hingga 19.00 dan shift terakhir jam 19.00 hingga jam 07.00 WiB.

Seiring berjalannya waktu, banyak rekan seangkatan Iswanti mundur dengan berbagai alasan. Minimnya kesejahteraan dan rasa malu dengan masyarakat menjadi alasan utama. Namun Heri tak akan bergeming.

"Saya tetap akan menjadi Linmas sampai tua nanti. Hingga tenaga saya tak dibutuhkan lagi," tandasnya.

Di hari ibu nanti, Heri berharap ada anak-anak muda wanita khususnya, yang mau menjadi seperti dirinya. Tak harus menjadi Linmas, yang penting, kata Heri, bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

"Jangan takut bekerja seperti saya. Wanita itu harus diperlakukan sama dengan pria," pungkasnya.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP