Tak rela Kalapas diganti, ratusan napi ancam bakar LP Meulaboh
Merdeka.com - Ratusan warga binaan pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mengamuk dan melakukan aksi unjuk rasa di dalam tahanan setempat. Bahkan para napi mengancam akan membakar Lapas Meulaboh.
Dalam orasinya warga binaan mendesak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Aceh tidak memindahkan Kepala LP saat ini karena sudah begitu peduli dengan kehidupan mereka.
"Bila tuntutan kami tidak dipenuhi, maka kami bersumpah akan membakar LP. Bapak Jumadi sudah seperti orang tua kami, belum ada selama ini pimpinan yang punya kemanusiaan seperti dirinya memperlakukan kami," teriak Munir, salah satu orator aksi, di Meulaboh, Senin (9/5).
Para napi melakukan orasi saling bergantian dan membentangkan spanduk serta kertas karton bertuliskan penolakan dipindahnya Kepala LP Meulaboh, Jumadi. Aksi itu tidak anarkis, meskipun para tahanan membencak-bencak dan mengoyang-goyang pagar jeruji besi.
Tidak ada pengawalan pihak kepolisian, hanya beberapa petugas sipir yang berada ditengah keramaian para napi itu. Salah satu yang menjadi tolak ukur tuntutan mereka karena sudah merasakan nyaman dan tidak berdesakan dalam satu sel tahanan.
"Beliau baru enam bulan bersama kami, tapi kami merasakan perubahan pelayanan yang begitu manusiawi. Kami minta pemerintah mendengar tuntutan kami agar tidak ada aksi lebih menakutkan yang bisa kami lakukan," timpal Abdullah, orator aksi dari blok B.
Sementara itu, Kepala LP Kelas II-B Meulaboh Jumadi menyampaikan dirinya tidak menyangka begitu fanatiknya para napi terhadap dirinya. Padahal hanya beberapa kebijakan yang baru digerakan untuk perubahan perlakuan kepada tahanan.
"Saya tidak paham juga dari mana mereka menilai sehingga meminta saya tetap disini. Memang baru-baru ini saya sudah berhasil memfungsikan satu blok lagi, sehingga dari dulunya mereka dalam satu sel 10-30 orang, saat ini tidak lagi begitu," bebernya.
Jumadi mengakui, pindah tugas dirinya ke Banda Aceh memang sudah kebijakan Kemenkum HAM. Namun kebijakan itu baru saja keluar dan tidak diketahui secara jelas siapa yang menyampaikan informasi demikian kepada warga binaan.
Sekitar enam bulan dirinya menjabat sebagai pimpinan di LP Meulaboh, ada beberapa terobosan telah berhasil dilakukan, seperti memfungsikan blok baru untuk efektivitas, membangun ruang serbaguna, yakni sebagai pintu pengamanan utama sekaligus menjadi balai latihan kerja kerajinan tangan warga binaan.
Di samping itu juga ada perhatian lain yang menurut warga binaan lebih menyentuh, yakni pemberian makan yang dinilai sudah sangat manusiawi, serta tertekannya kasus-kasus kekerasan dan kejahatan, karena terkontrolnya dengan baik aktivitas mereka.
"Kalau memang itu mereka anggap baik dan alasan mempertahankan saya disini, mungkin wajar saja. Saya sebenarnya memang sudah sangat ingin pindah ke Banda Aceh. Apalagi nama saya memang sudah dimutasi masuk dalam situs online dengan jabatan baru di sana," pungkasnya dilansir dari Antara.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya