Tahan Diri Sebar Fitnah dan Hoaks, Jangan Mudah Terbawa Arus Keburukan
Merdeka.com - Masyarakat harus mampu membentengi diri dari informasi hoaks, ujaran kebencian dan hasutan yang seliweran di media sosial. Jangan mudah terprovokasi sehingga bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Guru Besar bidang Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Mubarok mengatakan bahwa manusia sesungguhnya tidak suka kepada yang buruk. Tetapi daya tarik keburukan lebih kuat dibanding kebaikan.
"Jadi ketika menceritakan apa saja yang terjadi, maka keburukanlah yang dominan diikuti oleh masyarakat, kebaikan tidak diikuti. Meskipun seseorang sesungguhnya suka kepada kebaikan. Psikologinya begitu," kata Mubarok dalam keterangannya, Senin (26/4).
Oleh karena itu, menurutnya, munculnya hoaks ini juga adalah konsekuensi munculnya IT terutama bagi orang awam. Mantan Wakil Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu juga mengungkapkan era Teknologi Informasi (IT) saat ini juga menimbulkan kerusakan budaya luar biasa di masyarakat. Hingga ia menyebut sampai nanti suatu saat akan muncul era wisdom (kebijaksanaan).
"Era wisdom itu nanti ketika orang sudah sangat muak kepada keburukan, muak kepada kebohongan, muak kepada hoaks. Itu nanti akan muncul era wisdom, tapi itu masih akan lama. Karena sekarang orang masih menikmati era IT ini," tuturnya.
Untuk itu dia mengingatkan untuk mengurangi masifnya hal negatif masyarakat harus menahan diri. Terlebih saat ini bulan suci Ramadan. "Menahan diri dari berbicara bohong, mengadu domba, saling fitnah. Seluruh anggota tubuh berpuasa dan menjauhi keburukan," ujarnya.
"Kemudian kurangi aktifitas tidak diperlukan dan memilih hal yang betul-betul baik. Itu bisa produktif untuk membangun karakter manusia," tandasnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya