Susahnya Berantas KBB sampai Jokowi Angkat Bicara
Merdeka.com - Kelompok kriminal bersenjata (KKB) terus membuat ulah di Papua. Bahkan, sejumlah prajurit TNI dan Polri gugur diserang KKB. TNI Polri terus berupaya memberantas KKB namun kesulitan medan menjadi hambatan. Termasuk untuk menyelamatkan pilot Susi Air yang disandera KKB.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara mengenai rumitnya masalah penyanderaan di Papua. Jokowi berujar, kondisi lapangan di Papua tak semudah yang dibayangkan.
"Kalau kita melihat di lapangan, situasi lapangan itu tidak semudah yang kita bayangkan kalau kita itu di Jakarta. Saya ke Nduga dua kali, ke Wamena enggak tahu 4 atau 5 kali," kata Jokowi.
Kepala negara mengungkapkan, kondisi medan di Papua sangat sulit. Sedangkan, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menguasai medan yang hutan belantara itu.
"Medannya itu betul-betul medan yang sangat sangat sulit. Hutan belantara. Sangat dingin, jurangnya dalamnya beratus-ratus meter. Kalau belum ke sana belum bisa membayangkan. Padahal yang namanya KKB itu nguasai lapangannya,"ujar Jokowi.
Meski begitu, ia menegaskan, bahwa pihaknya tak pesimis menyelesaikan masalah di Papua. Jokowi hanya ingin masyarakat memahami kondisi medan di Papua.
"Bukan berarti kita pesimis. Ndak. Tapi memang medannya seperti itu. Tapi kan juga kemarin yang sandera sudah ada yang juga yang sudah bisa diamankan kembali. Medannya kalau bapak ibu ke sana baru ngerti betul betapa medannya sangat berat sekali," ujar Jokowi.
Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono menegaskan, status siaga tempur TNI di Papua bukanlah sebagai operasi militer. Status siaga tempur merupakan bentuk kesiagaan pasukan TNI menghadapi Kelompok Separatis Teroris (KST) di daerah rawan Papua.
Sebelumnya, Yudo menaikkan status operasi penyelamatan Pilot Susi Air Captain Philips M menjadi siaga tempur. Peningkatan status operasi itu dilakukan setelah KST menyerang sejumlah prajurit TNI hingga gugur.
"Itu kan bukan operasi militer, siaga tempur itu kan supaya pasukan kita sendiri siaga kalau suatu waktu-waktu diserang TNI kan harus selalu siaga pasukan waktu-waktu walaupun melaksanakan operasi," ujar Yudo di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (26/4).
Yudo mengatakan, status operasi siaga tempur bukan berarti prajurit TNI yang ada di Papua akan melakukan serangan atau pendekatan ofensif terhadap KST.
"Bukan, bukan ofensif, kita tetap defensif, tapi mereka harus siap karena memang di daerah yang kerawanannya tinggi, sehingga harus siaga tempur tadi," terangnya.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya