Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Survei Indikator: 82,3 Persen Anak Muda Setuju PMP Dimulai Sejak SD

Survei Indikator: 82,3 Persen Anak Muda Setuju PMP Dimulai Sejak SD Ilustrasi belajar. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/donatas1205

Merdeka.com - Survei Indikator Politik Indonesia mengungkapkan sebanyak 82,3 persen anak muda menilai diperlukan Pendidikan Moral dan Pancasila (PMP) masuk pelajaran sejak sekolah dasar.

"Lalu ditanya kapan, responden menjawab, jika perlu itu 82,3 persen itu mengatakan sejak SD, ini perlu dipertimbangkan oleh pemangku kebijakan," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei secara daring, Minggu (21/3).

Terkait hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem pun langsung merespons dengan cepat. Dia menilai hasil survei tersebut menunjukkan generasi muda menyadari pentingnya Pancasila dalam pendidikan. Namun Nadiem menginginkan anak-anak bukan hanya menghafal butir-butir pancasila saja saat mengeyam pendidikan.

"Pada kenyataannya pendidikan pancasila di sekolah yang selama ini kita terima cenderung berjarak dari kehidupan sehari hari di masa sekarang dan masa depan," kata Nadiem.

Sehingga nilai dan gagasan dari pancasila kata Nadiem tidak mampu diinternalisasi. Sebab itu, Kemendibud berupaya menjembatani jarak antara pendidikan pancasila dan kehidupan sehari hari maupun masa depan.

"Usai menyelesaikan pendidikan dengan konsep profil pelajar pancasila," kata Nadiem.

Dia menjelaskan konsep profil pelajar pancasila yang di bawah program merdeka belajar Kemendibud saat ini, terdapat enam komponen dalam profil pelajar Pancasila, yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri bernalar kritis dan kreatif.

"Setiap komponen dimaksudkan untuk menjadi acuan dalam pembentukan karakter mulai integritas, spiritualitas, dan moralitas. Termasuk untuk menjadikan generasi muda yang mampu berkompetisi global, toleransi terhadap perbedaan," ungkapnya.

Begitu juga kata Nadiem terkait kemandirian sebagai karakter yang dibutuhkan kompetisi global, bernalar kritis untuk memecahkan masalah dalam kehidupan. Lalu kata dia kreatif untuk memutuskan saat menghadapi masalah di berbagai situasi.

"Pendidikan Pancasila di bawah payung merdeka belajar dirancang dengan link and match antara enam komponen pelajar pancasila dengan kehidupan sehari hari masa kini dan masa depan," ucapnya.

Indikator Politik Indonesia melakukan survei ini pada 4-10 Maret 2021 kepada 1.200 responden berusia 17-21 tahun. Dengan situasi pandemi Covid-19, survei tersebut dilakukan melalui wawancara telepon.

Responden berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Indikator Politik Indonesia menggunakan metode simple random sampling dengan toleransi kesalahan sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP