"Kita tangkap hidup-hidup dia nangis, hilang momentum fight dengan polisi biar mati masuk surga," ungkap Komisaris Jenderal Tito Karnavian.Tito mengenang kerja kerasnya meringkus Iwan Darmawan Mutho alias Rois di dermaga Institut Pertanian Bogor. Rois diketahui terlibat teror bom di Kedutaan Besar Australia pada 2004. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme itu mengaku telah mewawancarai 500 orang terduga teroris. Rata-rata mereka memiliki pemikiran siap mati jika berhadapan dengan polisi."Bagi mereka (teroris) membunuh orang kafir masuk surga, dapat pahala. Sementara kalau terbunuh langsung masuk ke surga dan dapat bidadari."Berbagai kejadian dan fakta ini akhirnya membuka mata aparat jika mereka sudah menjadi target. Sama seperti membunuh orang asing, menghabisi polisi pun bagi kelompok radikal akan berbalas tempat terbaik di sisi Yang Maha Kuasa. Berturut-turut polisi dijadikan sasaran, di Jakarta, Tangerang Selatan, Cirebon, Solo dan banyak lagi. Tak hanya pakai senjata api, para pelaku juga melakukan bom bunuh diri. Mereka sudah siap menjadi 'pengantin'.Setelah teror bom di Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin pagi giliran Mapolresta Surakarta dijadikan sasaran. Pelakunya, Nur Rohman (31) diduga berafiliasi dengan ISIS melakukan bom bunuh diri. Anggota Provos Bripka Bambang Adi terluka dalam kejadian ini.Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan Nur Rohman merupakan anggota jaringan Abu Mushab yang telah ditangkap di Bekasi akhir tahun lalu.
"Abu Mushab itu orang yang aktif berkomunikasi dengan Bahrun Naim yang saat ini kami duga kuat berada di Suriah. Mushab juga menerima dana dari Suriah untuk aksi bom Thamrin," ungkapnya.Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan teroris sudah menambah daftar serangannya. Tidak hanya hal yang berbau asing atau barat, namun juga aparat kepolisian."Mereka menargetkan aparat kepolisian seperti peristiwa bom Thamrin. Polisi dianggap menjadi penyebab dan penghalang tujuan yang ingin mereka capai. Akhirnya menambah sasaran termasuk anggota Polri," tuturnya.
Advertisement
Jika melihat ke belakang tentu teror paling mengerikan adalah bom Bali 12 Oktober 2012. Tiga teroris Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas sudah dihukum mati. Satu pelaku Ali Imron dihukum seumur hidup karena mengakui kesalahannya dan membantu polisi membongkar jaringan teroris di tanah air.Belakangan Imron kerap mengisi berbagai diskusi untuk menyadarkan teman-temannya jika jihad yang dilakukan adalah salah. Janji masuk surga yang diiming-imingi hanya omong kosong.Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan sempat bertemu Imron dalam acara kajian Ramadan 'Peran Islam untuk Perdamaian Indonesia' di Wahid Institut Jakarta. Kepada Luhut, Imron mengajukan permintaan khusus agar dilibatkan dalam program pemerintah untuk deradikalisasi.Imron memang getol meluruskan makna jihad yang selama ini banyak dipakai kelompok-kelompok radikal. Dia dengan tegas mengakui jika bom Bali adalah jihad yang salah dan tidak ada yang bisa menjamin jika pelakunya masuk surga."Mereka bertiga belum bisa dipastikan mati syahid. Jika pun mereka mati syahid maka tidak secara otomatis menunjukkan bahwa aksi pengeboman di Bali adalah jihad yang benar dan juga tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan pengeboman seperti itu lagi." Demikian dikutip dari www.aliimron.com.Menurutnya, dalam berjihad tidak bisa hanya dilihat pelakunya mati syahid atau masuk surga. Tetapi perlu juga diperhatikan dampak positif dan negatifnya perjuangan itu sendiri. Apalagi banyaknya nyawa yang melayang."Bom Bali melanggar adab-adab jihad seperti tidak memberikan peringatan sebelum melakukan penyerangan, berlebihan dalam melakukan pembunuhan, melakukan pembunuhan dengan cara yang tidak baik, pembunuhan terhadap wanita dan yang diserang bukan pasukan perang tapi masyarakat umum," jelasnya.Dia menambahkan jihad yang benar adalah menghasilkan kejayaan. Jika bom Bali itu benar, lanjutnya, para pelaku akan semakin banyak pengikutnya dan aksi-aksi serupa semakin tidak terbendung."Sementara bom Bali menghasilkan kehinaan karena akhirnya kami dikejar-kejar oleh polisi kayaknya maling atau pelaku kriminal yang lainnya," tegas Imron.