Sunan Kuning jadi percontohan lokalisasi sejak 2009
Merdeka.com - Rencana Dirjen Rehabilitasi Kementerian Sosial menertibkan lokalisasi di Jawa Timur, sebetulnya sudah dilakukan di Lokalisasi Sunan Kuning, Kota Semarang, Jawa Tengah. Lokalisasi yang berada di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, ini mulai sejak tahun 2009 sampai sekarang ini sudah menjadi percontohan lokalisasi rehabilitasi dan resosialisasi di Indonesia.
Selain bertujuan untuk mengentaskan Pekerja Seks Komersil (PSK) dari lembah hitam pelacuran, resosialisasi juga dilakukan dengan jalan metode pembinaan dan penerapan kepada PSK yang disebut sebagai 'anak asuh'. Setiap anak asuh ini, selain dibawahi oleh mucikari, juga secara langsung harus patuh dan tunduk kepada aturan pengelola lokalisasi.
Suwandi, Koordinator Keamanan Pengelola Lokalisasi Sunan Kuning kepada merdeka.com Kamis (19/4), menyatakan sejak tahun 2009 sudah dilakukan program pengentasan anak asuhnya yang dilakukan sampai sekarang. Program resosialisasi ini terdiri dari upaya perlindungan kesehatan, pengentasan PSK untuk masa depan, program sosial keagamaan serta upaya pengamanan lingkungan lokalisasi.
Di bidang kesehatan, dalam waktu seminggu sekali, setiap PSK yang berada di lokalisasi Sunan Kuning mencapai 637 anak asuh dan 158 germo atau induk semang akan menjalani pemeriksaan rutin kesehatan. Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan dengan metode tes Voluntary and Counseling (VCT) dan Screening. Metode pemeriksaan VCT ini adalah untuk memastikan sang PSK apakah dalam melayani tamu-tamunya menggunakan kondom atau tidak.
Sementara metode screening dikenal mereka sebagai pemeriksaan rutin alat kemaluan para
pekerja seks. Dua metode ini dilakukan dalam rangka menekan terjadinya proses penularan penyakit kelamin atau Penyakit Seks Menular (PSM).
“Seminggu sekali kami melakukan pemeriksaan secara bergilir dari gang ke gang mulai dari hari Senin sampai Kamis. Dua minggu sekali kita melakukan screening yaitu pemeriksaan vagina para pekerja yang merupakan anak asuh kami. Kalau ada yang melayani tamu tanpa kondom pasti ketahuan. Alhamdulillah kami SK selama empat tahun ini menjadi
percontohan lokalisasi lain di Indonesia. Sebab angka penderita Penyakit Seks Menular-nya paling rendah se-Indonesia di antara lokalisasi besar yang lain,” tegas Suwandi.
Ratusan pekerja sek itu juga secara rutin menjalani pemeriksaan sebulan sekali untuk diambil sampel darahnya oleh petugas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugu Semarang. Sampel darah itu akan dibawa ke laboraturium untuk diteliti apakah kandungan darahnya positif mengidap penyakit seks menular ataupun virus HIV-AIDS atau tidak.
“Selain pemeriksaan rutin di klinik sekitar lokalisasi kami selama tiga bulan sekali melakukan pemeriksaan dengan tes darah secara berkala tiga bulan sekali tes virus HIV-AIDS dengan mengambil sampel darah mereka(PSK). Selain itu setiap hari Jumat mereka diwajibkan untuk mengikuti olahraga senam kesehatan,” tegas Suwandi yang juga
Ketua Paguyuban Antar Resosialiasi se-Indonesia.
Soal program rehabilitasi dan resosialisasi, Suwandi menjelaskan uang hasil PSK (anak asuhnya) yang melayani tamunya, masing-masing akan dibebani uang tabungan, uang keamanan dan uang sewa kamar. Uang tabungan ini dimaksudkan untuk tiga tahun ke depan diharapkan bisa keluar dan tidak selamanya menjadi PSK di lokalisasi Sunan Kuning.
“Kalau dulu setiap melayani tamunya anak asuh atau PSK setelah melayani tamu uang dibagi fifty-fifty dengan sang mami atau mucikari yang sering disebut orang Jawa sebagai germo. Sekaligus sebagai uang sewa kamar yang digunakan untuk menyewa bercinta dengan tamunya, tetapi sekarang ada iuran yang kami bebankan. Uang yang kami pungut
dari iuran nanti akan dikembalikan kepada anak asuh(PSK) untuk keluar dari lokalisasi membuka usaha sesuai ketrampilan yang mereka minati,” ungkap Suwandi.
Selama tiga tahun, selain bekerja sebagai PSK mereka mendapatkan pelatihan seperti menjahit, memasak, membuat berbagai macam kerajinan serta jenis dan model ketrampilan yang lain. Setelah selama tiga tahun bekerja mereka diharapkan bisa keluar dari lembah hitam prostitusi dengan modal dari uang iuran yang telah dilakukan oleh pengelola selama mereka bekerja sebagai PSK itu.
“Modal yang mereka dapatkan tergantung dari iuran dan tabungan yang mereka berikan kepada kami selaku pengelola. Ada yang puluhan juta rupiah bahkan sampai ratusan juta rupiah untuk modal dagang maupun usaha mereka. Bahkan sampai sekarang mereka ada yang sudah mempunyai mobil dan rumah sendiri disekitar lokalisasi,” jelas Suwandi.
Selain upaya pemeliharaan kesehatan dan pengentasan para PSK dari lembah hitam prostitusi, pengelola lokalisasi Sunan Kuning Kota Semarang juga memberikan pendidikan rohani. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, setiap seminggu sekali pada hari Kamis ada kegiatan kelompok pengajian. Selain itu, pengajian bulananpun juga diadakan sebagai kegiatan siraman rohani yang menyatakan bahwa melacur adalah perbuatan yang dilarang agama.
“Malam Jumat kita lakukan Yasin dan Tahlilan. Untuk sebulan sekali kita mengundang beberapa kyai dan dai ternama di Jateng dan nasional. David Chalikpun pernah sempat mengisi pengajian di lokalisasi kami ini. Bulan Rajab besok kita akan mengundang 100 kyai Jateng untuk mengaji di sini,” pungkas Suwandi. (mdk/ren)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya