Sultan minta warga tidak 'peras' wisata Yogyakarta
Merdeka.com - Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta para pelaku dan pegiat wisata di Yogyakarta untuk menjaga kualitas dan pelayanan. Sultan harap tak ada lagi cerita wisatawan di Yogyakarta dipatok harga mahal.
Sultan mencontohkan penutupan warung lesehan di kawasan Malioboro. Warung lesehan itu ditutup karena menjual makanan dan minuman tidak sesuai tarif yang disepakati.
Pedagang warung lesehan di Malioboro mematok harga yang tinggi. Sehingga membuat wisatawan menuliskan keluhannya di media sosial dan menjadi viral.
"PKL jualan di Malioboro naikkan harga seenaknya. Mosok nasi sepiring Rp 8000, yang biasanya tidak sampai. Kemarin kami tangkap, dan tidak boleh jualan selama satu bulan di Malioboro, karena bagi saya hal seperti ini sangat merugikan dalam dunia pariwisata. Mereka (wisatawan) jadi korban pemerasan secara tidak langsung," kata Sultan di lokasi wisata Green Village Desa Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul, Rabu (30/8).
Sultan juga menyoroti permasalahan parkir di wilayah wisata. Jika tarif parkir resmi hanya Rp 2 ribu tetapi oleh juru parkir ditarik hingga Rp 25 ribu.
"Bagi saya itu pemerasan tidak langsung. Kami tidak bisa mentolerir seperti itu lagi," tegasnya.
Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengingatkan jika Yogyakarta adalah daerah istimewa. Keistimewaan Yogyakarta bukan hanya daerahnya, tetapi juga perilaku warganya. Perilaku warga ini akan dirasakan langsung oleh para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.
"Jangan mencari untung karena memeras orang lain. Itu bukan karakter orang jogja. Kami ingin Jogja istimewa. Manusianya pun melayani dengan jujur, dengan ramah dengan itikad baik. Bukan sebaliknya, malah merusak mental kita karena ingin kaya mendadak mengambil manfaat secara tidak langsung dengan menaikkan harga seenak sendiri," tutup Sultan. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya