Sultan HB X resmikan wajah baru Malioboro
Merdeka.com - Ada yang baru di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Para wisatawan yang ingin mengunjungi kawasan legendaris di Yogyakarta ini kini bisa makin nyaman setelah adanya penataan kawasan pedestrian di sisi timur Jalan Malioboro ini.
Penataan kawasan sisi timur Jalan Malioboro ini merupakan penataan tahap pertama kawasan Malioboro. Sebagai penanda bahwa penataan kawasan Malioboro tahap pertama sudah selesai, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X pun melakukan peresmian, Kamis (22/12).
Dalam laporan penataan tahap pertama kawasan Malioboro yang dibacakan oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Rani Sjamsinarsi menyampaikan bahwa nantinya akan ada tiga tahap penataan lagi yang akan dilakukan oleh Pemda DIY.
Untuk penataan tahap pertama, adalah penataan sisi timur Jalan Malioboro dari Hotel Garuda hingga Pasar Beringharjo. Beberapa pembenahan yang dilakukan di antaranya pemasangan lantai teraso beserta jalur difabel dengan panjang 910 meter dan luas 10.750 meter persegi; lampu budaya 32 unit; tempat sampah 94 unit; kursi sandaran 115 unit; kursi tanpa sandaran 54 unit; bollard pembatas 413 unit; dan bollard bulat 68 unit.
Tak hanya melakukan pembenahan fisik bangunan saja, namun Pemda DIY juga melakukan penataan vegetasi di kawasan Malioboro. Beberapa pohon yang ditanam meliputi pohon asem Jawa sebanyak 71 batang, pohon gayam 9 batang, serta tanaman perdu sola kuning-jingga-merah 917 meter persegi.
Rani menambahkan, Pemda DIY juga menyediakan fasilitas air siap minum. Ada dua titik fasilitas air siap minum yang dipasang di Malioboro. Pemasangan air siap minum itu merupakan hasil kerjasama dengan PDAM.
"Tahap satu melakukan perbaikan kawasan Malioboro sepanjang 910 meter. Nilai kontrak dari pembangunannya sebesar Rp 23,7 miliar," kata Rani dalam laporannya.
Saat pidato peresmian penataan kawasan Malioboro tahap I, Sultan HB X mengungkapkan pemerintah tak akan menggusur PKL. Namun, Sultan meminta para PKL bisa menjaga kerapihan Malioboro dengan tidak meninggalkan barang datang yang disimpan dalam sebuah kotak dan kemudian ditinggal begitu saja ketika usai berjualan.
Sultan menilai, PKL di Malioboro menjadi kekuatan perekonomian. Transaksi ekonomi, menurut Sultan, menjadi denyut nadi perekonomian kelas menengah ke bawah yang ada di Yogyakarta.
"Makanya mohon untuk bisa mengkritisi, bagaimana yang kurang atau tidak perlu sebelum bangunan jadi. Jika mengkritik setelah jadi, kan repot," tutur Sultan.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya